Minggu, 1 November 2026
spot_img
BerandaFashionPendidikan IndonesiaLiterasi Digital Dinilai Jadi Fondasi Anak Mengekspresikan Budaya

Literasi Digital Dinilai Jadi Fondasi Anak Mengekspresikan Budaya

spot_img

Foto: Dok. MPR RI

KORAN EDUKASI — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Lestari Moerdijat menilai literasi digital perlu ditanamkan secara konsisten agar anak mampu mengekspresikan budaya dengan kritis, aman, dan etis di ruang digital.

Pernyataan yang disampaikan pada Minggu, 1 November 2026, itu merespons pandangan Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenai ruang digital sebagai tempat nilai, identitas, dan ekspresi budaya diwariskan. Menurut Lestari, keterampilan mengoperasikan perangkat saja tidak cukup.

“Ruang digital memang menjadi panggung baru bagi ekspresi budaya. Tetapi tanpa literasi yang kuat, anak-anak kita hanya akan menjadi konsumen konten,” ujar Lestari Moerdijat.

Pembiasaan di Rumah dan Sekolah

Lestari menekankan literasi digital harus menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan kegiatan musiman. Keluarga menjadi lingkungan awal untuk mengajarkan tanggung jawab, sedangkan sekolah perlu membangun ekosistem digital yang sehat dan berkelanjutan.

Empat pilar literasi digital nasional meliputi kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital. Dalam konteks ekspresi budaya anak, kemampuan memeriksa informasi, menghargai perbedaan, dan mempertimbangkan dampak sebelum membagikan konten menjadi perhatian utama.

Anak juga perlu mendapat ruang untuk memproduksi konten bernilai, tidak hanya mengonsumsi informasi. Penguatan ini dapat berjalan bersama pemanfaatan produk bahasa dan sastra sebagai bahan pembelajaran kontekstual di sekolah.

Tantangan Indeks Literasi

Lestari merujuk data Perpustakaan Nasional pada Maret 2026 yang menempatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat pada angka 40,6 atau kategori rendah. Angka tersebut menjadi dasar seruannya agar program literasi diwujudkan melalui kebijakan dan pembiasaan nyata.

Ia mendorong kolaborasi lintas sektor antara pendidikan dan kebudayaan. Sekolah, keluarga, pemerintah, platform digital, dan komunitas budaya memiliki peran berbeda dalam menyediakan pendampingan, materi, serta ruang aman bagi ekspresi anak.

Gagasan ruang digital sebagai “taman budaya” masih merupakan sasaran. Keberhasilannya bergantung pada konsistensi pendampingan, akses yang setara, perlindungan anak, dan kemampuan peserta didik menilai informasi sebelum menciptakan atau menyebarkan konten.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img