Foto: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong perguruan tinggi mengukur internasionalisasi dari dampaknya terhadap mutu pembelajaran, riset, pengembangan talenta, dan masyarakat, bukan semata-mata dari jumlah kerja sama atau posisi dalam pemeringkatan global.
Arah tersebut menjadi fokus Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi (AKPT) 2026 Angkatan I Tahap IV yang berlangsung di Universitas Indonesia pada 22–23 Oktober 2026. Tahap ini mengangkat tema Global Engagement & Future University dan diikuti para pemimpin perguruan tinggi dalam dua kelas pembelajaran.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menekankan bahwa kolaborasi internasional perlu diterjemahkan menjadi hasil yang dirasakan sivitas akademika dan publik. “Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana kerja sama tersebut meningkatkan mutu pembelajaran, menghasilkan riset yang bermanfaat,” ujarnya.
Reputasi Global Harus Bertumpu pada Mutu
Materi AKPT membahas strategi internasionalisasi, reputasi global, kampus hijau, serta kepemimpinan adaptif. Para peserta diajak melihat keterhubungan keempat agenda itu sebagai bagian dari transformasi institusi, bukan sebagai program terpisah yang berhenti pada dokumen kerja sama.
Mobilitas mahasiswa dan dosen tetap dipandang penting, tetapi harus memiliki tujuan akademik yang jelas. Perguruan tinggi perlu memastikan pertukaran, riset bersama, dan jejaring global menghasilkan peningkatan kapasitas, publikasi bermutu, inovasi, atau solusi yang relevan bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut juga menempatkan tata kelola sebagai fondasi. Pemimpin kampus dituntut menyelaraskan strategi internasional dengan kebutuhan nasional, kekuatan keilmuan institusi, serta sumber daya yang tersedia agar program dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Kampus Masa Depan Dituntut Adaptif
Agenda kampus masa depan mengharuskan perguruan tinggi merespons perubahan teknologi, krisis iklim, dan persaingan talenta. Karena itu, AKPT memasukkan isu green campus dan kepemimpinan adaptif untuk membantu institusi membangun keputusan berbasis data serta budaya kolaborasi.
Kemdiktisaintek berharap program ini memperkuat kemampuan pemimpin kampus menerjemahkan visi ke dalam kebijakan operasional. Dampak internasionalisasi kemudian dapat dilihat dari kualitas lulusan, relevansi riset, dan kontribusi perguruan tinggi terhadap penyelesaian masalah.
Penguatan tata kelola tersebut sejalan dengan pembahasan Koran Edukasi mengenai sistem pengukuran kinerja kampus, yang menempatkan perubahan nyata sebagai ukuran utama keberhasilan kebijakan pendidikan tinggi.




