Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu News63 Siswa SD Indonesia Berlaga di IMSO 2026, Hadapi 404 Peserta dari...

63 Siswa SD Indonesia Berlaga di IMSO 2026, Hadapi 404 Peserta dari 23 Negara

spot_img

Kredit foto: ANTARA/M Fikri Setiawan

KORAN EDUKASI — Sebanyak 63 siswa sekolah dasar akan mewakili Indonesia dalam International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 yang berlangsung di Depok, Jawa Barat, pada 2–7 Oktober 2026. Kontingen nasional terdiri atas 32 peserta bidang matematika dan 31 peserta bidang sains.

Ajang internasional tersebut dijadwalkan mempertemukan 404 siswa dari 23 negara. Selain Indonesia, peserta datang dari negara-negara yang memiliki tradisi kompetisi sains kuat, antara lain China, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, India, dan Filipina.

Dua Jalur Seleksi Menuju IMSO 2026

Peserta Indonesia dipilih melalui dua jalur. Jalur pertama berasal dari siswa berprestasi dalam Olimpiade Sains Nasional, setelah melewati tahapan kompetisi kabupaten atau kota, provinsi, dan nasional. Jalur kedua merupakan seleksi mandiri Klinik Pendidikan MIPA yang berlangsung dalam tiga tahap, yakni dua tahap daring dan satu tahap tatap muka.

Proses tersebut tidak hanya menilai penguasaan materi. Penalaran, kemampuan memecahkan masalah, eksplorasi matematika, eksperimen sains, dan perilaku peserta turut menjadi bagian dari penilaian. Pendekatan ini penting karena siswa tidak sekadar membawa nama sekolah, tetapi juga mewakili Indonesia dalam interaksi akademik lintas negara.

Soal Menguji Berpikir Tingkat Tinggi

Pada bidang matematika, peserta akan menjalani sesi isian singkat, esai, dan eksplorasi. Bidang sains mencakup dua sesi teori serta satu sesi eksperimen. Soal disusun dari usulan negara peserta, diseleksi dewan juri, dan dirancang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan materi yang tetap sesuai jenjang sekolah dasar.

Indonesia menghadapi tantangan besar karena sejumlah negara telah membiasakan siswa dengan latihan matematika dan sains berlevel tinggi dalam pembelajaran sehari-hari. Karena itu, penyelenggaraan IMSO di dalam negeri dapat menjadi kesempatan untuk mengukur kesiapan pembinaan talenta sekaligus memperluas pengalaman siswa.

Prestasi Bukan Satu-satunya Ukuran

Kompetisi internasional tetap perlu dipandang sebagai bagian dari proses belajar. Kemampuan berkomunikasi, menjaga sikap, mengelola tekanan, dan menghargai peserta dari negara lain sama pentingnya dengan raihan medali.

Penguatan ekosistem kompetisi juga memerlukan kesinambungan antara sekolah, keluarga, lembaga pembinaan, dan pemerintah. Pembibitan talenta sejak pendidikan dasar akan lebih bermakna apabila tetap menjaga keseimbangan perkembangan akademik dan karakter siswa.

Pembaca dapat melihat contoh prestasi teknologi mahasiswa dalam artikel ITS Juara Umum KRTI 2026.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img