Kredit foto: Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Keterbukaan publikasi ilmiah, data riset, sumber daya pendidikan, perangkat lunak, dan infrastruktur menjadi bagian dari agenda penguatan open science Indonesia. Kemdiktisaintek membawa agenda tersebut dalam Rapat Pleno Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO yang diberitakan pada 29 September 2026.
Konteks globalnya adalah UNESCO Recommendation on Open Science yang telah didukung 194 negara. Bagi Indonesia, penerapan prinsip keterbukaan tidak cukup hanya membuka akses jurnal. Tata kelola data, kesiapan peneliti, infrastruktur, perlindungan hak, dan keterlibatan masyarakat perlu dibangun secara beriringan.
Tiga Jalur Penguatan Open Science
Kemdiktisaintek mengusulkan tiga jalur kerja sama dengan UNESCO. Jalur pertama mencakup kebijakan dan tata kelola sumber daya. Jalur kedua berfokus pada pengembangan talenta. Jalur ketiga mencakup penguatan riset dan inovasi melalui open science, kecerdasan buatan, serta kolaborasi dengan masyarakat.
Usulan itu ditempatkan dalam portofolio kerja 2026–2027. Sejumlah program kementerian dinilai dapat dikembangkan dalam kerangka tersebut, termasuk literasi sains, laboratorium terbuka, penguatan reputasi jurnal, kompetisi matematika dan robotika, serta program residensi riset.
Manfaat Keterbukaan bagi Kampus dan Masyarakat
Bagi perguruan tinggi, open science dapat memperluas kesempatan kolaborasi dan mempercepat pengujian hasil penelitian. Data dan metode yang dapat diperiksa membantu peneliti lain menilai, mereplikasi, atau mengembangkan temuan yang sudah ada.
Masyarakat juga berpotensi memperoleh manfaat lebih cepat ketika pengetahuan ilmiah diterjemahkan menjadi sumber belajar, rekomendasi kebijakan, atau inovasi yang dapat digunakan. Namun, keterbukaan perlu disertai standar etika, perlindungan data pribadi, pengakuan hak pencipta, dan penjelasan batas penggunaan data.
Tantangan Implementasi Tidak Ringan
Perbedaan kapasitas antarperguruan tinggi menjadi salah satu pekerjaan rumah. Tidak semua kampus memiliki repositori, tenaga pengelola data, pendanaan, atau koneksi digital yang sama. Tanpa dukungan yang merata, open science berisiko berkembang hanya di institusi yang telah memiliki sumber daya besar.
Karena itu, indikator keberhasilan perlu melampaui jumlah dokumen yang dibuka. Mutu data, kemudahan pemanfaatan, keamanan, partisipasi peneliti, dan dampak bagi masyarakat harus ikut dinilai. Klaim kementerian mengenai manfaat program tetap perlu diikuti pemantauan hasil yang dapat diperiksa publik.
Konteks kerja sama riset internasional dapat dibaca dalam artikel kolaborasi internasional dan dampak riset Indonesia.




