Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsAtlet Pelajar Tak Perlu Memilih Sekolah atau Prestasi, Jalur Pembinaan Diminta Terhubung

Atlet Pelajar Tak Perlu Memilih Sekolah atau Prestasi, Jalur Pembinaan Diminta Terhubung

spot_img

Foto: ANTARA/HO-KONI.

KORAN EDUKASI — Atlet pelajar tidak semestinya dihadapkan pada pilihan antara menyelesaikan sekolah atau mengejar prestasi olahraga. Kantor Staf Presiden mendorong jalur pembinaan yang menghubungkan sekolah, organisasi olahraga, pemerintah, kompetisi, dan pendidikan lanjutan.

Pesan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk “Mimpi Besar, Sekolah Kelar: No Drop Out, Just Level Up!” di SMAN 1 Jakarta, Jumat, 25 September 2026. Kegiatan membahas ekosistem pembinaan talenta olahraga sejak bangku sekolah tanpa mengabaikan pendidikan.

Penemuan bakat harus diikuti jalur yang jelas

Tenaga Ahli Utama KSP Lindsey Afsari Puteri menilai talenta yang ditemukan di sekolah perlu memiliki jalur pembinaan, kesempatan berkompetisi, dan dukungan untuk tetap belajar. Tanpa keterhubungan tersebut, murid dan keluarga sering harus menyusun solusi sendiri ketika jadwal latihan bertabrakan dengan kegiatan akademik.

Pembinaan melibatkan banyak pihak. Sekolah berperan mengenali dan mendampingi murid, sedangkan KONI serta induk cabang olahraga mengembangkan kemampuan teknis. Pemerintah daerah dan kementerian terkait diperlukan untuk menyelesaikan persoalan jadwal, fasilitas, pembiayaan, dan keberlanjutan pendidikan.

Landasan kebijakan yang disebutkan meliputi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan dan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 mengenai Desain Besar Olahraga Nasional.

Sekolah membutuhkan kebijakan belajar yang adaptif

Dukungan terhadap atlet pelajar tidak berarti menurunkan standar akademik. Sekolah dapat menyediakan penjadwalan yang lebih adaptif, materi pengganti, asesmen yang terencana, serta komunikasi rutin antara guru, pelatih, dan orang tua.

Murid tetap perlu membangun kemampuan mengatur waktu, menjaga kesehatan, dan memenuhi tanggung jawab belajar. Pelatih juga perlu memahami kalender akademik sehingga target latihan tidak selalu menempatkan sekolah sebagai hambatan.

Pendekatan yang sama berlaku bagi cabang olahraga konvensional maupun e-sport. Keduanya memerlukan disiplin, latihan, pengelolaan kesehatan, dan rencana pendidikan yang menjaga masa depan peserta didik.

Pendidikan tinggi dan masa setelah menjadi atlet

KSP menilai akses pendidikan tinggi, termasuk beasiswa atlet, penting agar perjalanan prestasi tidak memutus masa depan akademik. Hal ini relevan karena masa puncak setiap cabang berbeda, sedangkan karier atlet dapat dipengaruhi cedera dan perubahan kompetisi.

Pendampingan kesehatan mental di sekolah juga menjadi bagian dari ekosistem yang aman. Artikel mengenai penguatan budaya peduli terhadap kesehatan mental siswa menunjukkan pentingnya dukungan komunitas sekolah bagi murid dengan tekanan khusus.

Keberhasilan pembinaan atlet pelajar sebaiknya tidak hanya diukur dari medali. Kelulusan, perkembangan keterampilan hidup, akses pendidikan lanjutan, dan kesiapan menghadapi masa setelah kompetisi merupakan ukuran yang sama pentingnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img