Foto: Istimewa/SINDOnews.
KORAN EDUKASI — Lulusan perguruan tinggi menghadapi tuntutan yang tidak berhenti pada penguasaan bidang akademik. Mereka juga perlu mampu membaca masalah masyarakat, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan menghubungkan keahlian dengan nilai yang menjadi pijakan institusi pendidikan.
Pesan itu mengemuka dalam orasi ilmiah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta, Rabu, 23 September 2026. Laporan mengenai orasi tersebut dipublikasikan SINDOnews pada 24 September 2026.
Tiga bekal bagi lulusan
Airlangga menyampaikan tiga arah bagi wisudawan S1, S2, dan S3. Pesan pertama berkaitan dengan kemampuan menjadi pemecah masalah dan inovator yang membawa nilai Qur’ani ke ruang kebijakan.
“Pertama, jadilah problem solver dan inovator, bawa nilai-nilai Qur’ani ke dalam ruang-ruang kebijakan,” kata Airlangga.
Pesan kedua ialah penguasaan teknologi dan literasi digital, termasuk kemampuan mengikuti perkembangan kecerdasan buatan. Bagi lulusan, kemampuan digital tidak cukup dimaknai sebagai bisa menggunakan aplikasi. Literasi juga mencakup menilai kualitas informasi, menjaga data, memahami keterbatasan teknologi, dan mempertimbangkan dampak etis keputusan.
Pesan ketiga adalah memanfaatkan jalur pengembangan yang tersedia, seperti program magang, pelatihan ekonomi digital, Digital Talent Scholarship, pembiayaan usaha, dan beasiswa untuk studi lanjut. Informasi mengenai program tersebut tetap perlu diperiksa melalui kanal resmi karena jadwal, kuota, dan persyaratannya dapat berubah.
Kampus perlu menghubungkan ilmu dengan masalah publik
Dalam orasinya, Airlangga mengaitkan pendidikan tinggi dengan agenda ekonomi berkeadilan, literasi keuangan, serta perkembangan ekonomi syariah. Ia menyebut indeks inklusi keuangan telah mencapai 93,61 persen dan literasi keuangan 69,57 persen, sementara inklusi keuangan syariah masih 13,14 persen.
Angka yang disampaikan pemerintah tersebut menunjukkan adanya jarak antara akses terhadap layanan keuangan dan pemahaman masyarakat. Bagi kampus, kesenjangan ini dapat menjadi ruang riset, pengabdian masyarakat, dan inovasi pembelajaran, terutama untuk membantu warga memahami risiko, biaya, serta hak dalam menggunakan produk keuangan.
Lulusan dari kampus berbasis keagamaan juga dapat berperan dengan menerjemahkan prinsip etika ke dalam keputusan profesional. Tantangannya adalah menjaga agar nilai tidak berhenti sebagai slogan, melainkan terlihat dalam cara merancang layanan, menyelesaikan konflik, dan menilai dampak kebijakan terhadap kelompok rentan.
Portofolio pengalaman menjadi penting
Penguasaan teknologi dan kemampuan memecahkan masalah perlu dibuktikan melalui pengalaman. Mahasiswa dapat membangun portofolio lewat riset, organisasi, proyek sosial, magang, atau usaha yang mendokumentasikan masalah, proses kerja, dan hasilnya.
Program seperti MagangHub 2026 dapat menjadi salah satu jalur pengalaman kerja, tetapi manfaatnya bergantung pada tujuan belajar yang jelas dan pendampingan yang memadai. Bagi perguruan tinggi, pekerjaan berikutnya adalah memastikan lulusan tidak hanya siap memasuki pasar kerja, tetapi juga mampu memperbaiki praktik di tempat mereka bekerja.




