Kondisi sekolah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur. Kredit foto: Metro TV News.
KORAN EDUKASI — Pemulihan infrastruktur pendidikan yang rusak akibat gempa di Nusa Tenggara Timur didorong menjadi prioritas agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara aman. Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza menyampaikan dorongan tersebut pada Sabtu, 19 September 2026.
Menurutnya, penanganan tidak cukup berfokus pada perbaikan bangunan yang rusak berat atau ambruk. Fasilitas belajar sementara juga diperlukan agar peserta didik tetap memiliki ruang belajar selama proses rehabilitasi berlangsung.
Keselamatan harus mendahului normalisasi kegiatan belajar
Pascabencana, keinginan mengembalikan kegiatan sekolah secepat mungkin perlu berjalan bersama pemeriksaan keamanan bangunan. Ruang kelas yang belum dinyatakan aman tidak seharusnya digunakan hanya demi mengejar normalisasi jadwal.
Selain bangunan, sekolah terdampak bencana membutuhkan pemetaan kebutuhan meja-kursi, bahan ajar, perangkat sanitasi, akses air, serta dukungan psikososial. Gangguan pembelajaran setelah bencana dapat berlangsung lebih lama daripada kerusakan fisik yang terlihat.
Ruang belajar sementara menjaga kesinambungan pendidikan
Fasilitas sementara dapat membantu sekolah mempertahankan rutinitas belajar sambil menunggu rehabilitasi permanen. Namun, fasilitas tersebut tetap perlu memenuhi standar dasar keselamatan, perlindungan dari cuaca, sanitasi, dan aksesibilitas.
Isu sarana pendidikan berkaitan erat dengan pemerataan mutu. Koran Edukasi sebelumnya mengulas akses pendidikan dan dukungan pemerintah daerah, yang memperlihatkan bahwa ketersediaan layanan harus diikuti kondisi belajar yang layak.
Untuk keluarga dan sekolah terdampak, informasi mengenai penggunaan kembali gedung sebaiknya mengacu pada hasil asesmen pemerintah dan otoritas teknis. Keputusan berbasis pemeriksaan keselamatan penting untuk mencegah risiko lanjutan bagi murid dan tenaga pendidik.




