Foto: Devita Savitri/detikcom
KORAN EDUKASI — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengembangkan Smart Fire Fighter Motorcycle, unit pemadam kebakaran berbasis sepeda motor yang dirancang untuk respons awal di gang sempit dan area yang sulit dijangkau mobil pemadam. Prototipe tersebut dipamerkan dalam Strategic Platform for Action, Research, and Collaboration (SPARC) UNJ 2026.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan Adziman menilai inovasi itu berpotensi digunakan untuk kebakaran permukiman maupun mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan. Penilaian disampaikan setelah ia melihat pameran di kampus UNJ, Jakarta Timur, Selasa (3/11/2026).
“Tadi ada produk untuk motor, di mana motor itu bisa terhubung dengan sumber air dan membantu untuk memadam kebakaran,” ujar Fauzan. Menurut penjelasan yang diterimanya, harga unit berada di kisaran Rp30 juta dan semprotan air dapat menjangkau sekitar 20 meter.
Pompa terintegrasi dan sensor keselamatan
Motor dilengkapi pompa sentrifugal yang terintegrasi dengan mesin. Konsep tersebut memungkinkan petugas mengambil air dari sumber yang tersedia tanpa membawa pompa besar secara terpisah, termasuk ketika beroperasi di lokasi dengan akses terbatas.
Fitur lain mencakup sistem navigasi untuk menentukan rute terpendek menuju titik kebakaran, pendeteksi asap, sensor suhu dan radius panas, serta tempat menyimpan alat pelindung diri. Kombinasi perangkat tersebut diarahkan untuk mempercepat respons sekaligus membantu petugas mengenali risiko di sekitar lokasi.
Ukuran sepeda motor memberi keunggulan mobilitas dibanding kendaraan besar. Namun, kapasitas air, ketahanan komponen, keselamatan pengendara, serta kinerja pada berbagai jenis kebakaran masih perlu diuji sebelum alat dipakai secara luas.
Potensi karhutla belum berarti siap diterapkan
Fauzan mengaitkan inovasi itu dengan kebutuhan penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama setelah pakar mencari sumber air di wilayah rawan. Di lahan gambut, air yang berada dekat permukaan berpotensi dimanfaatkan melalui pompa yang terpasang pada motor.
Pernyataan tersebut menunjukkan peluang pengembangan, bukan keputusan pengadaan atau bukti bahwa unit telah digunakan dalam operasi karhutla. Pengujian lapangan, sertifikasi keselamatan, pelatihan operator, dan kesesuaian dengan prosedur pemadam tetap diperlukan.
Pengembangan ini dapat melengkapi agenda riset terapan untuk penanganan karhutla. Ukuran keberhasilannya bukan hanya harga prototipe, tetapi juga keandalan alat, kecepatan respons, kemudahan perawatan, dan kemampuan menekan risiko bagi petugas.




