Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsSMKN 8 Batam Terapkan Dua Sif, 900 Siswa Berbagi 23 Ruang Kelas

SMKN 8 Batam Terapkan Dua Sif, 900 Siswa Berbagi 23 Ruang Kelas

spot_img

Kredit foto: ANTARA/HO-Diskominfo Kepri

KORAN EDUKASI — SMK Negeri 8 Batam akan menerapkan pembelajaran dua sif untuk mengatasi ketimpangan antara jumlah siswa dan ketersediaan ruang kelas. Jumlah peserta didik meningkat dari sekitar 400 menjadi 900 orang setelah sekolah menerima limpahan siswa dari SMK lain.

Sekolah membutuhkan 32 ruang kelas, tetapi baru memiliki 23 ruang. Keterbatasan tersebut membuat enam kelas sempat menjalani pembelajaran dengan memanfaatkan koridor sejak Agustus 2026. Setiap kelas berisi sekitar 38–40 siswa.

Dua Sif Menjadi Solusi Sementara

Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau memilih sistem dua sif agar seluruh siswa tetap memperoleh ruang belajar. Pengaturan ini akan membagi waktu pembelajaran antara kelompok pagi dan kelompok berikutnya, sembari pemerintah menambah kapasitas sekolah.

Peserta didik kelas XII yang sedang menjalani praktik turut memberi ruang bagi sekolah untuk mengatur pemakaian kelas. Meski demikian, skema dua sif memerlukan penjadwalan yang cermat agar durasi belajar, waktu istirahat, akses laboratorium, dan kegiatan praktik tidak berkurang secara tidak proporsional.

Lonjakan Siswa Diikuti Kekurangan Guru

Masalah SMKN 8 Batam tidak berhenti pada ruang kelas. Peningkatan penerimaan dari 13 menjadi 23 kelas juga memperbesar kebutuhan tenaga pendidik. Empat guru baru telah bergabung dan jumlah guru diharapkan mencapai 20 orang pada Oktober.

Pemerintah Provinsi Kepri berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait pembangunan ruang kelas baru. Pada 2026, provinsi tersebut memperoleh alokasi sekitar Rp100 miliar untuk pembangunan ruang kelas yang dipersiapkan melalui Kemendikdasmen.

Kualitas Pembelajaran Harus Tetap Dijaga

Pembelajaran dua sif dapat menjadi jalan keluar cepat, tetapi perlu dipantau agar tidak menimbulkan masalah baru. Sekolah perlu memastikan siswa pada setiap sif memperoleh guru, materi, fasilitas praktik, layanan konseling, serta kesempatan kegiatan sekolah yang setara.

Orang tua juga membutuhkan informasi jadwal yang pasti, terutama karena perubahan jam belajar dapat memengaruhi transportasi, pendampingan keluarga, dan kegiatan siswa setelah sekolah. Evaluasi berkala akan membantu menentukan apakah dua sif berjalan efektif sampai ruang kelas tambahan tersedia.

Persoalan penambahan fasilitas sekolah dapat dibandingkan dengan program revitalisasi SDN 1 Kedungjaya di Cirebon.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img