Jumat, 30 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsCangkang Siput Bisa Rekam Cuaca Masa Lalu, Begini Cara Peneliti Membacanya

Cangkang Siput Bisa Rekam Cuaca Masa Lalu, Begini Cara Peneliti Membacanya

spot_img

Foto: Getty Images/iStockphoto/Vadym Terelyuk

KORAN EDUKASI — Cangkang siput darat ternyata dapat menyimpan petunjuk tentang pola hujan dan cuaca ekstrem pada masa lalu. Tim peneliti University of Queensland di Australia menguji pendekatan ini untuk menelusuri kondisi iklim jauh sebelum catatan cuaca modern tersedia.

Riset yang dipimpin Profesor James Shulmeister itu berfokus pada siput di kawasan Coalstoun Lakes, Queensland. Sampel kecil diambil dari cangkang siput yang telah mati, lalu dianalisis berdasarkan kandungan isotop stabil oksigen dan karbon.

Komposisi isotop pada cangkang berubah seiring kondisi lingkungan ketika siput hidup. Karena pertumbuhan cangkang berlangsung bertahap, lapisannya dapat berfungsi seperti arsip yang merekam perubahan curah hujan dan kelembapan dari waktu ke waktu.

Menjangkau Masa Sebelum Catatan Resmi

Catatan curah hujan resmi di Australia baru tersedia sejak sekitar 1900. Analisis cangkang berpotensi memperpanjang rekonstruksi iklim hingga pertengahan abad ke-19 karena spesimen siput telah tersimpan di museum sejak dekade 1850-an.

“Siput memberi kita kemungkinan untuk merekonstruksi peristiwa siklon di masa lalu,” kata Shulmeister. Temuan itu penting karena jejak badai lama tidak selalu tercatat lengkap dalam dokumen meteorologi maupun arsip sejarah.

Peneliti juga membandingkan sinyal kimia pada cangkang dengan data curah hujan yang tersedia. Langkah itu diperlukan untuk menguji seberapa akurat cangkang merekam kejadian basah, kering, atau perubahan musim yang tajam.

Potensi Arsip Iklim Berbasis Koleksi Museum

Pakar siput darat John Stanisic mencatat Australia memiliki sekitar 2.500 spesies siput darat. Keragaman tersebut membuka peluang penelitian di lebih banyak lokasi, meski setiap spesies dan habitat tetap perlu dikalibrasi secara hati-hati.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Holocene ini menunjukkan bahwa koleksi sejarah alam bukan sekadar bahan taksonomi. Spesimen lama dapat memberikan data lingkungan baru ketika dianalisis dengan teknik laboratorium modern.

Pendekatan itu sejalan dengan perkembangan riset berbasis teknologi di perguruan tinggi, yang menggabungkan bukti fisik, data, dan metode analitis untuk menjawab persoalan masa kini. Namun, hasil rekonstruksi tetap harus dibaca bersama bukti iklim lain agar kesimpulannya tidak melampaui kemampuan data.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img