Foto: Humas Setditjen Dikti
KORAN EDUKASI — Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 resmi dibuka di Universitas Diponegoro, Semarang, Selasa (3/11/2026). Lebih dari 400 tim dari 100 perguruan tinggi mengikuti puncak Program Kreativitas Mahasiswa tersebut.
PIMNAS tahun ini mengangkat tema inovasi mahasiswa yang adaptif dan berdampak untuk mendukung Indonesia maju, berkelanjutan, dan bermartabat. Kompetisi mencakup sembilan kategori utama dengan karya dari bidang penelitian, teknologi, kewirausahaan, pengabdian kepada masyarakat, serta penciptaan produk.
Rektor Universitas Diponegoro Suharnomo meminta kampus hadir sebagai pemecah masalah bagi masyarakat. Ia menilai delegasi yang lolos ke PIMNAS membawa tanggung jawab menghasilkan karya ilmiah yang bukan hanya unggul dalam kompetisi, tetapi juga bermanfaat bagi kemanusiaan.
Kemdiktisaintek tekankan integritas akademik
Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi M. Samsuri mengingatkan peserta agar tidak melakukan fabrikasi maupun falsifikasi data. Menurut dia, karya yang merespons tantangan masyarakat harus disusun berdasarkan riset dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penekanan tersebut penting karena PIMNAS menjadi ajang nasional yang menguji gagasan, metode, hasil penelitian, dan kemampuan mahasiswa mengomunikasikan temuannya. Unsur kebaruan dan penerapan perlu berjalan bersama kepatuhan pada etika akademik. Dosen pendamping dan perguruan tinggi juga memegang peran dalam menjaga proses penelitian sejak tahap penyusunan proposal.
Puncak perjalanan Program Kreativitas Mahasiswa
PIMNAS berawal dari tradisi lomba karya ilmiah mahasiswa sebelum 1988. Nama PIMNAS mulai digunakan pada penyelenggaraan 1990 di Institut Pertanian Bogor, lalu cakupannya berkembang dari karya ilmiah menuju inovasi teknologi, kewirausahaan, pengabdian, dan penciptaan produk.
Universitas Diponegoro kembali menjadi tuan rumah setelah sebelumnya menyelenggarakan PIMNAS ke-11 pada 1998 dan PIMNAS ke-27 pada 2014. Pembukaan diisi defile peserta serta dihadiri pimpinan perguruan tinggi dan dosen pendamping dari berbagai daerah.
Orientasi karya yang berguna bagi masyarakat sejalan dengan dorongan agar riset kampus berangkat dari tantangan nyata. Meski demikian, manfaat setiap karya tetap perlu dibuktikan melalui penerapan, pengujian, dan keberlanjutan setelah kompetisi berakhir.




