Kamis, 5 November 2026
spot_img
BerandaEdu NewsUnhas Latih Ratusan Sivitas Akademika Memanfaatkan AI Generatif

Unhas Latih Ratusan Sivitas Akademika Memanfaatkan AI Generatif

spot_img

Foto: Humas Universitas Hasanuddin/Ishaq Rahman

KORAN EDUKASI — Universitas Hasanuddin (Unhas) melatih ratusan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan memanfaatkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) generatif melalui Pelatihan Gemini Academic di Makassar.

Pelatihan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Aula Arsjad Rasyid, Kampus Unhas Tamalanrea. Kegiatan diselenggarakan bersama Google Indonesia, Google for Education, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Narasumber Google for Education Kristiyanto dan M. Edward Ranggong mendampingi peserta mengenali perangkat serta fitur Gemini. Sesi praktik diarahkan pada kebutuhan akademik dan pekerjaan sehari-hari, bukan sekadar pengenalan teknologi.

Pemanfaatan Dibedakan Menurut Kebutuhan

Bagi dosen, AI generatif diperkenalkan sebagai alat pendukung untuk menyiapkan bahan pembelajaran dan mengembangkan materi perkuliahan. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk eksplorasi informasi, sedangkan tenaga kependidikan dapat memanfaatkannya untuk membantu pekerjaan administratif dan pelayanan.

Ketua Lembaga Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial Unhas Muhammad Niswar mengatakan penguasaan fitur dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat pekerjaan, serta mendukung pembelajaran dan layanan akademik.

“Kehadiran teknologi AI perlu diimbangi dengan kemampuan pengguna,” jelas Muhammad Niswar. Tanpa keterampilan yang memadai, potensi teknologi dinilai tidak akan sepenuhnya mendukung kualitas pekerjaan.

Integritas Akademik Tetap Menjadi Batas

Pelatihan juga menempatkan ketepatan informasi, integritas akademik, dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian penting penggunaan AI. Teknologi diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kapasitas intelektual manusia atau dasar tunggal dalam mengambil keputusan akademik.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan kampus untuk mengarahkan transformasi digital pada masalah nyata. Sebelumnya, Kemdiktisaintek mendorong riset kampus bergeser dari produk ke tantangan, sehingga penggunaan teknologi perlu terhubung dengan tujuan pembelajaran dan dampak yang terukur.

Pelibatan tiga kelompok sivitas akademika menunjukkan bahwa literasi AI tidak hanya menjadi urusan teknis. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan perlu memahami fungsi, batasan, serta tanggung jawab berbeda sesuai perannya.

Bagi Unhas, pelatihan dua hari ini menjadi langkah pengembangan sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital. Hasil jangka panjangnya masih bergantung pada penerapan di kelas dan layanan kampus, serta evaluasi atas akurasi, efisiensi, dan kepatuhan terhadap etika akademik.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img