Foto: ANTARA/Ananto Pradana
KORAN EDUKASI — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mendorong perguruan tinggi mengidentifikasi persoalan di wilayahnya dan terlibat langsung dalam penyelesaian. Kampus diminta menjadikan pengetahuan, riset, dan sumber daya akademik sebagai solusi yang dapat diterapkan bersama masyarakat.
Fauzan menyampaikan arahan itu setelah menghadiri Living Lab Summit 2026: Seminar Nasional dan Pameran Living Lab di Auditorium Pandhita Majapahit Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat, 30 Oktober 2026.
“Masing-masing kampus melihat problem daerahnya yang diidentifikasi oleh kampus seperti apa, dari situ itu diharapkan kampus langsung terjun untuk terlibat mengatasi persoalan,” ujar Fauzan.
Masalah lokal menjadi titik awal riset
Pendekatan living lab mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan mitra usaha dalam lingkungan pengembangan solusi. Permasalahan dipetakan bersama, kemudian gagasan diuji pada konteks nyata sebelum diperluas.
Dengan pola tersebut, keberhasilan kegiatan tidak hanya dihitung dari jumlah seminar, publikasi, atau prototipe. Kampus perlu menilai apakah solusi dapat digunakan, diterima masyarakat, dipelihara, dan memberikan perubahan yang terukur.
Setiap daerah memiliki kebutuhan berbeda, mulai dari pertanian, pengelolaan sampah, kesehatan, transportasi, pendidikan, hingga penguatan usaha kecil. Karena itu, perguruan tinggi perlu memilih fokus berdasarkan data dan kapasitas keilmuan yang dimiliki.
Kolaborasi menentukan keberlanjutan
Keterlibatan pemerintah daerah diperlukan agar hasil riset terhubung dengan kebijakan dan anggaran. Masyarakat berperan memastikan solusi sesuai kebutuhan, sedangkan mitra usaha dapat membantu produksi, standardisasi, atau perluasan penggunaan.
Proses identifikasi perlu dilakukan sebelum kampus menawarkan teknologi atau program. Tanpa pemetaan yang memadai, solusi berisiko tidak menjawab akar persoalan, sulit digunakan masyarakat, atau berhenti ketika pendanaan awal berakhir. Data dasar dan indikator dampak harus disiapkan sejak tahap perencanaan.
Dokumentasi proses, pembagian peran, dan rencana pemeliharaan perlu disiapkan agar model yang berhasil dapat direplikasi tanpa kehilangan mutu.
Dorongan tersebut sejalan dengan agenda agar kampus memimpin inovasi dan tidak sekadar mengikuti pasar. Bagi perguruan tinggi, tantangannya adalah menjaga ketepatan ilmiah sekaligus memastikan inovasi dapat bekerja di lapangan dan berlanjut setelah proyek berakhir.




