Foto: Tim BKPDM/Kemendikdasmen
KORAN EDUKASI — Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan buku Amerta karya Tama Kunkun untuk membantu murid mengenal air melalui cerita, ilustrasi, dan fakta sains. Buku itu membahas keberadaan, sifat, manfaat, pemanfaatan, hingga pentingnya menjaga kelestarian air.
Nama Amerta berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “air kehidupan”. Tama mengembangkan tokoh Amerta sebagai personifikasi air agar materi ilmiah lebih mudah dipahami anak. Ceritanya juga memuat ajakan mengurangi pemborosan dan pencemaran air serta ilustrasi mengenai mitigasi bencana.
Menurut Tama, materi buku dihimpun dari buku pelajaran, buku elektronik, dan sumber daring. Tantangan utamanya ialah menerjemahkan pengetahuan ilmiah menjadi bahasa yang dekat dengan pembaca anak tanpa menghilangkan gagasan pokok tentang air sebagai sumber kehidupan.
Dari membaca bersama menuju aksi hemat air
Guru SD Negeri 006 Kramat Pagi, Mohamad Anwar Kurnaedi Saputra, menggunakan Amerta dalam pembelajaran melalui kegiatan membaca bersama, eksplorasi materi, diskusi, pengamatan, pengolahan informasi, dan refleksi. Setelah memahami isi buku, murid diarahkan melakukan tindakan sederhana seperti menghemat air di sekolah dan rumah.
Materi di dalamnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan siklus hidrologi, sumber air, sifat air, dan manfaatnya. Tokoh, ilustrasi, serta fakta unik dalam buku juga dapat memancing pertanyaan murid yang kemudian dikembangkan guru dengan sumber belajar lain dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar.
Pendekatan tersebut menggabungkan literasi membaca, pengetahuan sains, dan pembentukan karakter. Tujuannya bukan hanya membuat murid memahami konsep, tetapi juga membangun tanggung jawab terhadap penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil program kurasi buku 2024
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen Supriyatno menjelaskan, Amerta merupakan salah satu hasil program kurasi 2024. Program itu menyeleksi naskah potensial dari berbagai daerah, lalu mengembangkannya melalui pendampingan penulis agar sesuai dengan jenjang dan kemampuan baca anak.
“Semoga bisa menginspirasi Bapak/Ibu untuk turut berkontribusi dalam penyediaan buku yang layak baca oleh anak-anak,” tutur Supriyatno dalam siaran pers Kemendikdasmen, Rabu, 28 Oktober 2026.
Pemanfaatan buku tersebut dibahas dalam kegiatan Bedah Buku Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI): Amerta yang melibatkan penulis, guru, akademisi, praktisi, dan masyarakat. Pembelajaran berbasis buku ini melengkapi berbagai kegiatan pendidikan lingkungan, termasuk pengenalan teknologi ramah lingkungan kepada murid sekolah dasar.




