Foto: ANTARA/Zack Tonu Bala
KORAN EDUKASI — Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menetapkan pendidikan sebagai gerakan bersama yang melibatkan keluarga, gereja, masyarakat adat, sekolah, dan pemerintah. Kebijakan itu diarahkan untuk membentuk pengetahuan serta karakter anak sejak dari rumah.
Bupati Teluk Wondama Elysa Auri menyampaikan kebijakan tersebut dalam peringatan 101 tahun peradaban pendidikan di Tanah Papua di Lapangan Aitumeiri, Miei, Distrik Wasior, Minggu, 25 Oktober 2026. Filosofi yang diusung ialah “Membangun Peradaban dari Rumah, Setiap Rumah adalah Sekolah dan Setiap Orang adalah Guru”.
“Kepada para orang tua jadilah pelita utama,” kata Elysa Auri. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan juga dibentuk melalui pengasuhan, keteladanan, dan interaksi sehari-hari di keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Empat Komitmen Memasuki Abad Kedua
Ketua Dewan Adat Papua Daerah Wondama Adrian Worengga membacakan empat komitmen pemerintah daerah, masyarakat adat, dan gereja. Komitmen pertama meneguhkan Aitumeiri sebagai tempat bersejarah bagi pendidikan, pembentukan karakter, dan perkembangan peradaban di Tanah Papua.
Komitmen kedua menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama dengan rumah sebagai tempat pembentukan iman, pengetahuan, kasih, disiplin, dan karakter. Komitmen ketiga memperkuat kolaborasi pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat adat.
Komitmen keempat berfokus pada penyiapan generasi Wondama yang unggul memasuki abad kedua peradaban pendidikan. Sasaran yang disampaikan mencakup generasi beriman, cerdas, sehat, terampil, dan tetap mencintai kebudayaannya.
Kolaborasi Lintas Lembaga
Pelaksanaan kebijakan membutuhkan keterlibatan tokoh agama, pemimpin adat, pemuda, kelompok perempuan, serta aparatur dari tingkat kabupaten hingga kampung. Guru juga ditempatkan sebagai teladan yang pengabdiannya melampaui jam mengajar di kelas.
Deklarasi disaksikan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Wakil Bupati Teluk Wondama Anthonius Alex Marani, dan Wakil Ketua II Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua Pendeta Gustav Melkias Wutoy. Perwakilan Universitas Papua dan Universitas Ottow Geissler Papua turut hadir.
Gerakan berbasis rumah dan komunitas itu melengkapi upaya pemerataan fasilitas seperti dukungan perangkat pendidikan di Papua Barat Daya. Keberhasilannya akan bergantung pada penerjemahan deklarasi menjadi program, pembagian peran, dan pemantauan yang konsisten.




