Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsWamendiktisaintek: Kampus Perlu Siapkan SDM yang Mampu Mengendalikan AI, Bukan Sekadar Memakainya

Wamendiktisaintek: Kampus Perlu Siapkan SDM yang Mampu Mengendalikan AI, Bukan Sekadar Memakainya

spot_img

Wamendiktisaintek Stella Christie membahas AI dan pendidikan. Kredit foto: ANTARA.

KORAN EDUKASI — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menekankan bahwa pendidikan perlu menyiapkan manusia yang mampu mengendalikan kecerdasan buatan (AI), bukan sekadar bergantung pada teknologi tersebut. Pernyataan itu disampaikan seusai seminar nasional di Purwokerto, Sabtu, 19 September 2026.

Menurut Stella, peran manusia tetap penting dalam penciptaan dan kurasi pengetahuan. AI dapat mengakses dan menyajikan banyak fakta, tetapi manusia harus mampu menilai informasi mana yang relevan, dapat dipercaya, dan layak digunakan.

Kurasi informasi menjadi kompetensi penting

Di tengah arus informasi yang semakin besar, kemampuan memilah pengetahuan menjadi keterampilan yang makin penting bagi mahasiswa. Tantangannya bukan hanya mengetahui cara memakai aplikasi AI, melainkan memahami keterbatasan keluaran mesin, memeriksa bukti, dan mempertanggungjawabkan keputusan akademik.

Stella juga mendorong penggunaan bukti ilmiah dalam menentukan metode pembelajaran. Pendekatan berbasis science of learning dinilai dapat membantu perguruan tinggi memilih strategi belajar berdasarkan temuan penelitian, bukan hanya kebiasaan atau intuisi.

Literasi AI perlu dibarengi nalar kritis

Bagi kampus, literasi AI dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan akademik yang jelas: kapan AI boleh digunakan, bagaimana mahasiswa mengungkapkan penggunaannya, bagaimana verifikasi sumber dilakukan, dan kompetensi apa yang tetap harus dikuasai tanpa bantuan mesin.

Perkembangan ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan tinggi untuk terus beradaptasi terhadap teknologi. Koran Edukasi sebelumnya membahas penguatan literasi dan numerasi dalam pembelajaran; di era AI, kemampuan dasar tersebut tetap penting sebagai fondasi untuk menilai informasi secara kritis.

Dengan demikian, adopsi AI di perguruan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya alat yang digunakan. Ukuran yang lebih bermakna adalah apakah teknologi membantu mahasiswa berpikir lebih baik, bekerja lebih bertanggung jawab, dan menghasilkan pengetahuan yang dapat diuji.

RELATED ARTICLES

1 KOMENTAR

Komentar ditutup.

- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img