Jumat, 30 Oktober 2026
spot_img
BerandaFashionPendidikan IndonesiaSEA-MLE Roadmap Diluncurkan, Enam Pilar Pandu Pendidikan Multibahasa

SEA-MLE Roadmap Diluncurkan, Enam Pilar Pandu Pendidikan Multibahasa

spot_img

Foto: Kemendikdasmen

KORAN EDUKASI — SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) meluncurkan Southeast Asian Roadmap on Multilingual Education atau SEA-MLE Roadmap bersama dua risalah kebijakan tentang literasi dan pembelajaran Bahasa Inggris. Tiga dokumen itu ditujukan sebagai rujukan bagi pemerintah, sekolah, dan lembaga pendidikan dalam menyusun program yang mempertimbangkan keragaman bahasa murid.

Peluncuran berlangsung dalam Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL) ke-17 di Jakarta dan diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Selasa, 27 Oktober 2026. SEA-MLE Roadmap dikembangkan SEAQIL bersama Sekretariat SEAMEO dengan dukungan teknis UNESCO Bangkok.

Direktur SEAQIL Brian Arieska Pranata menjelaskan perbedaan antara bahasa yang digunakan anak di rumah dan bahasa pengantar sekolah menjadi persoalan penting. Pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu memungkinkan murid membangun kemampuan dasar dalam bahasa yang paling mereka pahami, lalu mengembangkan penguasaan bahasa nasional dan bahasa lain secara bertahap.

Enam Pilar dari Akses hingga Keterlibatan Komunitas

Roadmap tersebut memuat enam pilar, yakni akses, pembelajaran, guru, kebijakan, data, dan komunitas. Cakupannya meliputi perluasan layanan multibahasa, pengembangan kurikulum dan bahan ajar yang sesuai kebutuhan bahasa murid, penguatan kompetensi guru, dukungan pendanaan, pemanfaatan data, serta pelibatan masyarakat.

Setiap negara anggota SEAMEO dapat menyesuaikan penerapan keenam pilar dengan prioritas nasional dan konteks lokal. Artinya, dokumen ini bukan aturan tunggal yang langsung berlaku, melainkan kerangka regional untuk membantu perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pendidikan multibahasa.

Kerangka tersebut relevan dengan kebutuhan satuan pendidikan yang beragam dan inklusif. Bahasa pengantar, materi, dan cara guru menjelaskan perlu mempertimbangkan kondisi murid tanpa mengurangi target penguasaan Bahasa Indonesia.

Risalah Kebijakan Soroti Literasi dan Guru Bahasa Inggris SD

Risalah pertama disusun berdasarkan kajian kebutuhan guru di Aceh Besar, Makassar, dan Ternate pada 2024. Rekomendasinya mencakup penyelarasan pemahaman guru tentang literasi, peningkatan kapasitas, dan penguatan lingkungan belajar yang mendukung keterampilan memahami teks.

Risalah kedua membahas kesiapan guru mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar. Usulan yang disampaikan meliputi kebijakan kualifikasi dan kompetensi yang lebih menyeluruh, penguatan pendidikan calon guru melalui kerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, percepatan rekrutmen, serta pelatihan khusus bagi guru yang bukan lulusan pendidikan Bahasa Inggris.

SEAQIL juga merekomendasikan pengembangan profesional berkelanjutan dan pembelajaran berdiferensiasi. Efektivitas dokumen tersebut selanjutnya bergantung pada penerjemahan rekomendasi menjadi kebijakan, program pelatihan, materi ajar, serta dukungan anggaran di tingkat nasional dan daerah.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img