Kamis, 1 Oktober 2026
spot_img
BerandaLifestyleMahasiswaJualan Roti Saat Kuliah, Pandu Lulus sebagai Salah Satu Terbaik IPB

Jualan Roti Saat Kuliah, Pandu Lulus sebagai Salah Satu Terbaik IPB

spot_img

Foto: Pandu Yoga Pratama, mahasiswa Program Studi Manajemen Hutan IPB University. IPB University.

KORAN EDUKASI — Pandu Yoga Pratama menjadi salah satu lulusan terbaik IPB University setelah menempuh kuliah sambil berjualan roti untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Mahasiswa Program Studi Manajemen Hutan itu merupakan orang pertama dalam keluarganya yang berkuliah di perguruan tinggi negeri.

Ayah Pandu bekerja sebagai buruh masak, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Ketika kondisi ekonomi keluarga menurun pada awal semester empat, ia mulai menjual roti kepada teman-teman di kampus.

Dukungan lingkungan membantu keberlanjutan studi

Upaya tersebut bukan hanya soal mencari tambahan penghasilan. Dukungan teman yang membeli dagangannya membantu Pandu mempertahankan kegiatan akademik sekaligus menghadapi tekanan ekonomi tanpa meninggalkan kuliah.

Lingkungan pertemanan dari berbagai daerah juga disebut memperkaya wawasan dan membentuk karakternya. Pengalaman ini menunjukkan pentingnya ekosistem kampus yang tidak mengucilkan mahasiswa ketika mereka harus bekerja atau menjalankan usaha kecil selama studi.

Prestasi dibangun bersama pengabdian

Pandu memilih Manajemen Hutan setelah terinspirasi buku Walden karya Henry David Thoreau. Selama kuliah, ia banyak berinteraksi dengan masyarakat yang bergantung pada sumber daya hutan.

Bersama rekan-rekannya, Pandu menjalankan program pemberdayaan di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan. Kegiatan tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Abdidaya Ormawa selama dua tahun dan pengakuan sebagai tim dengan rekam jejak pengabdian terbaik kedua.

Pengabdian berlanjut setelah lulus

Setelah menyelesaikan studi, Pandu melanjutkan kegiatan sukarela di kawasan Danau Lido, Kecamatan Cigombong. Pendampingannya mencakup budi daya ikan nila rendah residu, pengolahan sampah rumah tangga, dan pembentukan kelompok masyarakat pengawas.

Kisah ini tidak boleh dibaca sebagai anggapan bahwa semua mahasiswa harus menanggung kesulitan sendirian. Kampus tetap perlu menyediakan beasiswa, layanan konseling, pekerjaan paruh waktu yang layak, dan sistem dukungan akademik bagi mahasiswa rentan.

Perjuangan Pandu memperlihatkan bahwa capaian akademik dapat berjalan bersama kontribusi sosial. Akses pendidikan tinggi yang lebih luas juga dibahas dalam artikel Koran Edukasi mengenai gagasan pendidikan negeri gratis hingga universitas.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img