Sumber foto: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
KORAN EDUKASI — Jakarta berpeluang menjadi ruang uji nyata bagi inovasi yang lahir dari perguruan tinggi. Gagasan itu disampaikan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam forum internasional tentang keberlanjutan perkotaan.
Konsep testbed, sandbox, atau living lab menempatkan kota bukan sekadar sebagai pengguna teknologi. Pemerintah daerah dapat membawa persoalan yang benar-benar dihadapi warga, lalu kampus dan lembaga riset mengembangkan solusi yang dapat diuji sebelum diterapkan lebih luas.
Masalah kota menjadi agenda riset
Jakarta menghadapi persoalan yang saling berkaitan, mulai dari pengelolaan air dan limbah, kualitas udara, banjir, mobilitas, penurunan muka tanah, hingga ketergantungan pada tempat pemrosesan akhir sampah. Dalam pendekatan ini, masalah tersebut perlu dirumuskan secara terukur agar peneliti mengetahui sasaran dan jalur dampak yang hendak dicapai.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting pada tahap awal inovasi. Jaringan kampus, akademisi, dan mahasiswa dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus talenta untuk menguji solusi bagi persoalan perkotaan.
Bantar Gebang menjadi salah satu contoh
Kemdiktisaintek menyebut penjajakan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyusun pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap persoalan TPST Bantar Gebang. Kebutuhan daerah akan dipetakan bertahap, kemudian dipertemukan dengan kapasitas riset dan teknologi yang tersedia.
Alur kolaborasinya dimulai dari identifikasi masalah oleh pemerintah daerah, penyusunan agenda riset, pengembangan solusi, pengujian, hingga implementasi. Dengan urutan ini, riset diharapkan tidak berhenti pada laporan atau prototipe, tetapi memiliki kesempatan lebih besar untuk dipakai dalam pelayanan publik.
Kolaborasi dan kebijakan berbasis bukti
Forum tersebut juga melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, sektor swasta, dan mitra pembangunan internasional. Asian Development Bank menekankan perlunya melihat persoalan kota melalui rantai nilai yang utuh, sedangkan AmCham Indonesia menyoroti kebijakan berbasis bukti, peta jalan jangka panjang, dan kepastian kebijakan.
Bagi kampus, skema ini membuka ruang pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa dan peneliti dapat bekerja pada persoalan nyata, sementara pemerintah memperoleh dasar ilmiah sebelum memperluas suatu program.
Penguatan peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan strategis juga terlihat dalam pembahasan riset kampus untuk ketahanan energi. Tantangannya tetap sama: memastikan kolaborasi menghasilkan dampak yang dapat diukur, bukan sekadar kegiatan seremonial.




