Foto: Shutterstock
KORAN EDUKASI — Suhu udara yang panas tidak hanya membuat tubuh terasa tidak nyaman. Kondisi tersebut juga dapat menambah beban fisik dan psikis, sehingga seseorang lebih mudah lelah, tertekan, atau bereaksi emosional terhadap situasi yang biasanya dianggap biasa.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Alifah Nabilah Masturah menjelaskan bahwa respons itu berkaitan dengan teori beban stimulus. Ketika rangsangan lingkungan melampaui kapasitas normal tubuh, proses adaptasi dapat berkembang menjadi tekanan atau stres.
Beban Tubuh Memengaruhi Respons Emosi
Menurut Alifah, tubuh yang terus bekerja menyesuaikan diri terhadap suhu tinggi membutuhkan energi lebih besar. Keadaan itu dapat mengurangi kenyamanan, menambah rasa lelah, dan membuat proses berpikir tidak berjalan seoptimal saat kondisi fisik stabil.
“Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” ujar Alifah dalam penjelasan yang dimuat detikEdu, Senin, 12 Oktober 2026.
Peningkatan tekanan tidak otomatis membuat setiap orang bereaksi sama. Namun, saat tubuh sudah terbebani, perkataan, nada suara, atau candaan yang sebenarnya netral dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang mengganggu. Dalam lingkungan belajar, perubahan respons semacam ini penting dipahami karena dapat memengaruhi interaksi antarsiswa maupun hubungan peserta didik dengan guru.
Faktor kondisi tubuh juga berperan. Kurang tidur dan dehidrasi yang menyertai cuaca panas dapat menurunkan kemampuan seseorang mengelola emosi. Karena itu, penjelasan psikologis mengenai suasana hati perlu dibaca bersama dengan kondisi fisik, bukan semata-mata dianggap sebagai persoalan sikap.
Relevansi bagi Lingkungan Belajar
Sekolah dan keluarga dapat memperhatikan tanda-tanda ketidaknyamanan yang muncul selama periode panas, terutama ketika kegiatan belajar berlangsung di ruang dengan sirkulasi udara terbatas. Penyesuaian sederhana pada waktu aktivitas, akses air minum, dan kesempatan beristirahat dapat membantu menjaga konsentrasi tanpa mengabaikan kebutuhan akademik.
Alifah juga menekankan pentingnya mengenali emosi dan pemicu pribadi. Langkah ini bukan pengganti penanganan kesehatan, tetapi membantu seseorang memahami kapan responsnya dipengaruhi kelelahan, dehidrasi, atau tekanan lingkungan.
Dalam konteks pendidikan, pengelolaan kondisi belajar menjadi bagian dari upaya membangun ruang yang aman dan mendukung. Perhatian pada faktor fisik melengkapi pembahasan tentang perlindungan dan kesejahteraan anak dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat perubahan lingkungan memengaruhi perilaku dan konsentrasi.




