Setiap anak terlahir unik dan cerdas. Masing-masing dikaruniai bekal kecerdasan yang berbeda-beda. Termasuk kecerdasan literasi dan numerasi, yang memerlukan pendampingan khusus untuk memupuk dan terus mengasahnya.
Jika fondasi literasi dan numerasi telah kokoh, maka anak-anak akan lebih mudah dalam mengarungi proses belajar selanjutnya. Mereka juga akan semakin mantap menyongsong masa depan lantaran terlatih untuk berpikir kritis dan logis.
SEPAKU, PENAJAM PASER UTARA — Empati dan kejelian guru dalam mengamati siswa-siswinya menjadi kunci awal untuk menentukan langkah pembelajaran selanjutnya. Guru-guru inilah, yang senantiasa menjaga denyut pembelajaran literasi dan numerasi bagi anak-anak negeri.
Seperti keseharian di SD Negeri 019 di Jalan Pelawan, Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Guru-guru di sana telah mempraktikkan bagaimana membumikan literasi dan numerasi. Dengan dukungan dari manajemen sekolah serta pendampingan mitra INOVASI, mereka mengajarkan literasi dan numerasi seperti membimbing anak-anak menapaki tangga kemampuan. Tangga yang dipijak setahap demi setahap sesuai dengan titik tumbuhnya masing-masing.
Salah seorang guru kelas di SDN 019 Sepaku, Lilis Sugianti mengatakan, sebelumnya pengajaran literasi dan numerasi di kelas tinggi seringkali terjebak dalam asumsi ragam tunggal. Kerap kali, guru beranggapan bahwa seluruh murid kelas IV atau kelas VI otomatis sudah lancar membaca teks panjang. Mereka mengira anak-anak kelas IV, V dan VI telah mahir mengoperasikan perhitungan Matematika tingkat lanjut.
Anggapan itu tentu saja mesti dicermati lagi. Karenanya, butuh kejelian serta empati para guru untuk mengamati satu persatu murid. Memang, butuh effort lebih para pendidik untuk menyibak tirai ketimpangan fondasi dasar yang kerap tersembunyi.
Pada kenyataannya, masih ada murid yang belum tuntas dalam hal membaca dan menulis. Si Anak tersebut belum dapat menguasai pengenalan suku kata, misalnya. Ada pula yang masih tertatih memahami pola bilangan dasar. Imbasnya, anak yang tertinggal menjadi jenuh dan kehilangan minat, sementara anak yang sudah mahir merasa bosan dan kurang tertantang.
“Dulu, pemahaman kita kalau anak sudah kelas empat itu pasti sudah lancar membaca. Padahal ternyata tidak semuanya sama. Kalau dulu yang tidak paham jadi sibuk sendiri atau bermain saat mengerjakan tugas, kita jadi lebih sulit mengajar. Tapi sekarang, kalau anak memang baru bisa di tingkat kata, ya kami kasih soalnya di kata. Begitu juga di numerasi, walau sudah kelas empat kalau posisinya masih di dasar, kami dampingi dari dasar,” ungkap Lilis bijak.
Pendekatan ini, lanjut Lilis, diawali dengan asesmen awal pada murid untuk memetakan kemampuan literasi dan numerasinya. Dengan begitu, guru tidak lagi menduga-duga kemampuan murid. Semua menjadi lebih terukur dalam sebuah data. Data inilah yang menjadi peta, penunjuk jalan bagi guru dalam mengelompokkan murid secara dinamis dan fleksibel.
“Setelah kami dapat data, barulah kami merancang pembelajaran. Dan lagi kami merancangnya itu secara berdiferensiasi. Jadi anak itu tidak sama. Memang di awal saat kami klasikal itu sama, tapi nanti saat sudah mulai penugasan, itu sudah kami kelompokkan. Nanti saat pendampingan juga berbeda antara anak yang sudah pandai, yang rata-rata, sampai yang rendah, itu juga kami bedakan. Mulai dari tugas, cara pendampingan, ya juga dibedakan. Kalau memang anak itu butuh bimbingan ekstra, kami kasih di kelas tambahan,” imbuh Lilis.
Langkah yang ditempuh Lilis itu membawa perubahan nyata pada interaksi dan tata kelola di ruang kelas. Guru bergerak aktif memfasilitasi kebutuhan yang beragam.
“Saya buat di kelas itu tiga kelompok, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia. Saya buat selalu tiga karena itu yang dasarnya untuk pembelajaran. Jadi anak yang memang butuh bimbingan, itu dekat dengan saya. Nah, terus anak yang memang bisa dilepas sedikit tapi tetap harus dipantau, itu duduknya agak jauh. Nah, kalau anak yang memang sudah bisa dilepas, itu dia biasanya duduk paling jauh dari saya. Tapi bukan berarti mereka jauh terus kita lepas, tidak. Tetap kita harus berkeliling,” tutur Lilis.
Tak bisa dipungkiri, dukungan penuh dari manajemen sekolah turut memperkuat keberlanjutan praktik ini. Kepala SD Negeri 019 Sepaku, Suleiman Effendi menegaskan bahwa penguasaan literasi dan numerasi dasar yang tepat adalah fondasi utama bagi seluruh proses belajar selanjutnya.
“Perubahan terbesar yang kami rasakan adalah terciptanya iklim sekolah yang benar-benar berpihak pada murid. Ketika guru-guru kami mau menyesuaikan tingkat pengajaran literasi dan numerasi dengan kemampuan riil anak, suasana belajar menjadi jauh lebih hidup. Kami di sekolah berkomitmen penuh untuk terus menyediakan ruang kolaborasi dan fasilitas pendukungnya,” tegas Suleiman Effendi.
Ketika fondasi literasi dan numerasi dibangun dengan penuh empati, setiap anak di Sepaku kini memiliki pijakan yang kokoh untuk menatap masa depan. Seperti yang kita ketahui, kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi pokok dalam mengolah informasi. Baik informasi berupa teks, angka serta simbol-simbol Matematika yang semuanya berguna untuk memecahkan masalah sehari-hari. Khusus literasi, ini berfokus pada pemahaman dan pengolahan teks yang nantinya akan melatih kemampuan anak untuk berpikir kritis. Sementara itu, numerasi terkait dengan penggunaan logika, angka-angka serta analisa data yang nyata. Numerasi penting untuk mengajarkan generasi kita agar dapat mengambil keputusan-keputusan yang logis.




