Foto: Humas Universitas Jember/Mohamad Isriadi
KORAN EDUKASI — Fahriza Salsabila Putri meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ) pada Wisuda Periode VI Tahun Akademik 2026/2027, Minggu, 1 November 2026. Ia menyelesaikan studi dengan indeks prestasi kumulatif 3,90.
Pencapaian itu diraih setelah perjalanan pendidikan yang tidak selalu mudah. Fahriza menjadi yatim sejak duduk di madrasah tsanawiyah. Bersama ibunya, ia membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjual nasi dan jajanan, termasuk membawa dagangan ke sekolah hingga masa madrasah aliyah.
Kesempatan kuliah dipandang Fahriza sebagai jalan membangun kemandirian finansial, membantu ibu, dan menjadi teladan bagi dua adiknya. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dari upayanya menyelesaikan pendidikan tinggi.
Organisasi, magang, dan mengajar mengaji
Selama kuliah, Fahriza tidak hanya mengejar nilai akademik. Ia mengikuti Himpunan Mahasiswa Islam, khususnya Korps HMI-Wati, untuk belajar tanggung jawab, kerja sama, dan menjalankan amanah dalam organisasi.
Ia juga magang di Firma Hukum H. Achmad Cholily dan Rekan. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan melihat penerapan ilmu hukum dalam penanganan persoalan nyata, sekaligus memperkaya kompetensi di luar ruang kuliah.
Di tengah kesibukan, Fahriza tetap mengajar mengaji anak-anak di lingkungan sekitar. “Kita bisa memulainya dari hal sederhana yang mampu kita lakukan secara konsisten,” tuturnya mengenai upaya memberi manfaat kepada orang lain.
Kelulusan menjadi awal tanggung jawab
Setelah lulus, Fahriza ingin membangun karier di bidang hukum, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan melanjutkan kegiatan mengajar. Rencana tersebut masih menjadi sasaran yang perlu diwujudkan melalui pengalaman profesional dan pembelajaran lanjutan.
Kisahnya menambah contoh mahasiswa yang bertahan dalam keterbatasan, seperti wisudawan terbaik UNJ yang menjalani kuliah dengan laptop pinjaman. Dukungan keluarga dan akses pendidikan menjadi unsur penting, bukan sekadar narasi ketekunan individu.
Fahriza menempatkan gelar sarjana sebagai awal tahap baru. Pencapaian akademik memberinya modal, sedangkan dampak nyata akan ditentukan oleh integritas, kompetensi, dan konsistensi membagikan ilmu.
Pengalaman berjualan, berorganisasi, magang, dan mengajar membentuk rangkaian kompetensi yang berbeda. Kampus perlu memastikan mahasiswa dengan latar belakang rentan memperoleh dukungan akademik dan nonakademik agar kesempatan menyelesaikan studi tidak semata bergantung pada daya tahan pribadi.




