Senin, 2 November 2026
spot_img
BerandaFashionPerguruan TinggiKemdiktisaintek Dorong Kampus Menggeser Riset dari Produk ke Tantangan

Kemdiktisaintek Dorong Kampus Menggeser Riset dari Produk ke Tantangan

spot_img

Foto: Kemdiktisaintek

KORAN EDUKASI — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong perguruan tinggi menggeser orientasi riset dari bidang atau produk tertentu menuju penelitian berbasis tantangan. Perubahan ini ditujukan agar hasil penelitian menjawab persoalan nyata dan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah.

Arah tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman dalam Diskusi Ahli Senat Akademik Universitas Indonesia di Depok. Forum bertema strategi membangun universitas riset berdampak itu berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026, dan dipublikasikan kementerian pada 1 November.

“Masalahnya apa, rumusan masalahnya apa,” ujar Fauzan Adziman. Menurutnya, peneliti perlu memahami persoalan serta kebutuhan pengguna sebelum menentukan produk atau teknologi yang akan dikembangkan.

Kolaborasi lintas disiplin dan wilayah

Pendekatan berbasis tantangan membuka ruang bagi sains dan teknologi untuk bekerja bersama ilmu sosial, ekonomi, dan hukum. Gabungan keahlian diperlukan agar solusi tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sasaran.

Kemdiktisaintek menyiapkan dua jalur penguatan, yakni pemerataan kapasitas riset di berbagai wilayah dan penguatan kampus yang telah memiliki kemampuan unggul. Pemerataan perlu disertai kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah.

Salah satu contoh yang disampaikan ialah konsorsium di Nusa Tenggara Timur yang melibatkan 13 perguruan tinggi setempat dan dua kampus dari luar daerah untuk menangani stunting serta kemiskinan. Model konsorsium memungkinkan sumber daya dan kepakaran digabungkan.

Manfaat harus dibuktikan dalam pemanfaatan

Hasil penelitian perlu dikembangkan dengan memahami ekosistem pemanfaatannya. Keberhasilan inovasi karena itu tidak cukup diukur dari produk atau jumlah publikasi, melainkan dari kemampuan solusi menjawab kebutuhan pengguna dan memberikan nilai tambah.

Arah ini melanjutkan upaya mempertemukan peneliti, industri, investor, dan pemerintah dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026. Namun, dampak tetap harus diuji melalui penerapan, evaluasi, dan tindak lanjut kolaborasi.

Kebijakan riset prioritas, pembinaan talenta, pengabdian kepada masyarakat, serta hilirisasi disiapkan sebagai unsur ekosistem. Perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat ilmu sekaligus penghasil solusi, bukan sekadar penyedia keluaran akademik.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img