Foto: ITS
KORAN EDUKASI — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Abdul Ghofur menjadi wisudawan doktor tertua Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 61 tahun 5 bulan. Ia menyelesaikan studi sambil tetap menjalankan pekerjaannya sebagai peneliti.
Ghofur memulai pendidikan doktor pada 2022. Keputusannya kembali ke kampus didorong kesempatan untuk memperdalam ilmu yang masih sejalan dengan pengalaman profesionalnya di bidang rekayasa dan teknologi kelautan.
Ia sebelumnya menamatkan sarjana Teknik Kelautan ITS pada 1990, lalu bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang kemudian menjadi bagian dari pembentukan BRIN. Ghofur juga pernah menempuh studi magister di Newcastle University, Inggris.
Meneliti turbin angin lepas pantai
Disertasi Ghofur mengkaji desain Short SPAR, struktur terapung yang dapat menjadi fondasi turbin angin lepas pantai. Penelitian itu mempertimbangkan karakteristik sejumlah perairan Indonesia dengan kedalaman sekitar 20–25 meter.
Desain yang diteliti menggunakan struktur SPAR klasik dengan heave plate dan viscous plate untuk membantu meredam gerakan struktur terapung. Kajian memadukan perhitungan numerik dan pengujian hidrodinamika di laboratorium.
Meski berpengalaman sebagai peneliti, Ghofur tetap harus memperbarui kemampuan teknis setelah puluhan tahun tidak mengikuti pendidikan formal. Ia mempelajari perangkat lunak Ansys Fluent untuk mendukung analisis numerik dan pengujian struktur.
Pendidikan doktornya didukung program In-House Beasiswa Riset BRIN. Dukungan tersebut membantunya melanjutkan studi menjelang usia pensiun sekaligus mengembangkan riset yang relevan dengan bidang pekerjaannya.
Belajar tetap membutuhkan disiplin
Ghofur menyatakan keselarasan antara pekerjaan dan bidang studi membantu proses perkuliahan. Kebiasaannya melakukan riset juga membuat tahapan penelitian dan penyelesaian disertasi dapat dijalani tanpa hambatan besar.
“Sebagai mahasiswa, kita harus menjaga disiplin, tekun belajar, bekerja keras, dan menghindari kebiasaan yang memicu kemalasan,” pesannya, dikutip dari laman ITS melalui detikEdu, Rabu, 28 Oktober 2026.
Pencapaian Ghofur memperlihatkan pendidikan formal dapat digunakan peneliti untuk memperbarui metode dan memperdalam keahlian. Kisah ini melengkapi perjalanan akademik lain, seperti wisudawan terbaik UNJ yang menyelesaikan kuliah dengan perangkat pinjaman, dengan tantangan yang berbeda pada setiap peserta didik.




