Selasa, 6 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsFestival Literasi Sulawesi Utara 2026 Libatkan 3.400 Peserta

Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 Libatkan 3.400 Peserta

spot_img

Foto: RRI/Ariany

KORAN EDUKASI — Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 yang berlangsung pada 2–4 Oktober di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, Manado, dihadiri sekitar 3.400 peserta. Kegiatan mempertemukan pelajar, mahasiswa, guru, pegiat literasi, komunitas taman baca, penulis lokal, budayawan, seniman, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menutup rangkaian festival pada Minggu, 4 Oktober 2026. Agenda tiga hari tersebut diselenggarakan Putra Putri Literasi Sulawesi Utara yang diketuai Standius Bara Prima.

Tahun ini, festival mengusung tema Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban. Penempatan kegiatan di museum sekaligus membuka hubungan antara pembelajaran literasi, sejarah daerah, seni, dan pengenalan karya masyarakat.

Literasi melampaui membaca dan menulis

Yulius Selvanus menempatkan literasi sebagai kebiasaan membaca, menulis, menganalisis persoalan, mencari solusi, dan menghasilkan karya. Pandangan tersebut memperluas literasi dari kemampuan dasar menjadi kecakapan mengolah informasi serta mengekspresikan gagasan.

Keterlibatan berbagai kelompok menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak hanya menjadi tugas sekolah. Komunitas baca, keluarga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku kebudayaan memiliki ruang untuk memperkaya pengalaman belajar masyarakat.

Festival juga menghadirkan pertunjukan musik oleh Endah N Rhesa, Adhitia Sofyan, dan Coco Lense. Komika Iyai Arbie tampil dalam sesi komedi, sedangkan Theater Isbima membawakan cerita tentang pahlawan perempuan Sulawesi Utara Maria Walanda Maramis. Sanggar Edelweis Manado menampilkan tarian Indonesia Menari.

Dari festival menuju gerakan berkelanjutan

Pameran lukisan seniman lokal menjadi bagian lain dari rangkaian kegiatan. Ruang semacam ini memberi kesempatan kepada peserta untuk melihat literasi dalam bentuk visual dan narasi kebudayaan, bukan hanya melalui buku atau kegiatan kelas.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berharap festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang menjangkau kabupaten dan kota. Harapan itu masih memerlukan tindak lanjut berupa program, sasaran, dan ukuran capaian yang jelas.

Keberlanjutan menjadi penting agar antusiasme ribuan peserta menghasilkan kegiatan membaca, menulis, berdiskusi, dan berkarya setelah festival selesai. Pengalaman daerah lain, seperti pelatihan literasi dan numerasi bagi guru Muhammadiyah di Kuantan Singingi, menunjukkan bahwa ekosistem literasi membutuhkan penguatan pelaku di tingkat sekolah dan komunitas.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img