Foto: RRI/alwisuryatmaja
KORAN EDUKASI — Guru Biologi yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Kota Pekanbaru mendapat pendampingan untuk menyusun soal berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Pendampingan diberikan oleh Guru Besar Pendidikan Sains dan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, Prof. Dr. Evi Suryawati. Materi difokuskan pada penggunaan stimulus kontekstual, proses telaah, serta pengujian validitas dan reliabilitas soal.
Kegiatan tersebut berangkat dari perhatian terhadap capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Biologi. Evi Suryawati menyampaikan bahwa data yang menjadi dasar kegiatan menunjukkan nilai TKA Biologi Provinsi Riau pada 2025 berada di kisaran 54, sementara sejumlah kabupaten tercatat di bawah 50 persen.
Soal tidak cukup menguji ingatan
Soal HOTS dirancang agar peserta didik mengolah informasi sebelum menentukan jawaban. Stimulus dapat berasal dari data, fenomena, atau kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran Biologi, pendekatan itu memungkinkan murid menggunakan konsep untuk membaca masalah, bukan sekadar mengingat istilah.
Penguatan kualitas instrumen tidak sama dengan menambah jumlah latihan. Guru perlu menetapkan kompetensi yang hendak diukur, memastikan pertanyaan sesuai dengan stimulus, dan menilai apakah pilihan jawaban dapat membedakan tingkat pemahaman peserta didik.
Soal yang telah disusun juga perlu ditelaah dan diuji coba. Tahap tersebut membantu guru menemukan pertanyaan yang ambigu, tingkat kesulitan yang tidak tepat, atau pilihan jawaban yang tidak bekerja sebagaimana direncanakan.
Evaluasi menjadi bagian dari pembelajaran
Pendampingan ini menghubungkan asesmen dengan pembelajaran mendalam. Hasil evaluasi seharusnya memberi informasi tentang cara murid memahami konsep, menalar hubungan sebab-akibat, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks baru.
Data nilai TKA yang disebut dalam kegiatan dapat menjadi titik awal evaluasi, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan mutu sekolah atau kinerja guru secara tunggal. Perbandingan perlu mempertimbangkan karakter peserta didik, kesiapan sekolah, kualitas pembelajaran, dan ketepatan instrumen.
Perubahan rentang skor TKA 2026 untuk jenjang SMA juga membuat pembacaan hasil perlu mengikuti ketentuan terbaru. Karena itu, pengembangan soal oleh guru dan pemahaman terhadap sistem pelaporan hasil harus berjalan beriringan.




