Foto: Tim Puspresnas/Kemendikdasmen
KORAN EDUKASI — Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 mencatat 39.300 pendaftar, meningkat sekitar 47 persen dibandingkan 26.723 pendaftar pada 2025. Dari jumlah itu, 250 talenta riset jenjang pendidikan dasar dan menengah mengikuti rangkaian final pada 24–30 September 2026.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan penyelenggaraan OPSI tidak berhenti pada kompetisi dan penganugerahan medali. Para peserta berprestasi disiapkan untuk mengikuti pembinaan lanjutan, termasuk menuju ajang internasional, program Bina Talenta Indonesia, seleksi Beasiswa Talenta Indonesia, serta jalur prestasi ke perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.
Pengembangan itu ditempatkan sebagai bagian dari Manajemen Talenta Murid sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 25 Tahun 2025. Dengan kerangka tersebut, hasil kompetisi menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengaktualisasikan kemampuan riset murid secara berkelanjutan.
Finalis Mengikuti Tantangan Riset dan Kolaborasi
Rangkaian final OPSI 2026 mencakup presentasi penelitian, pameran karya, serta Research Idea Challenge. Pada tantangan terakhir, peserta diminta menyusun gagasan pemecahan masalah secara spontan dalam waktu terbatas.
Kemendikdasmen juga menggelar Bina Talenta Indonesia Kolaboratif pada 28 September 2026. Sebanyak 125 tim berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah sekaligus melatih enam kompetensi yang dirangkum sebagai 6C: berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, karakter, dan kewargaan.
Untuk memperkuat dasar metodologi peserta, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Materi pendampingan meliputi metodologi penelitian, klirens etik, dan pengenalan kaidah ilmiah. Penguatan ini penting karena penelitian murid tidak hanya dinilai dari hasil akhir, tetapi juga dari ketepatan proses dan pertanggungjawaban ilmiahnya.
Pada jenjang SMP/MTs dan sederajat, bidang lomba terdiri atas Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Terapan, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sementara itu, jenjang SMA/MA/SMK/MAK dan sederajat melombakan Fisika Terapan dan Rekayasa, Ilmu Sosial Humaniora, serta Matematika, Sains, dan Teknologi.
Uang Pembinaan Berbeda Menurut Jenjang
Peraih medali jenjang SMP/MTs memperoleh uang pembinaan Rp15 juta untuk emas, Rp10 juta untuk perak, dan Rp5 juta untuk perunggu. Pada jenjang SMA/MA/SMK/MAK, besarnya Rp25 juta untuk emas, Rp20 juta untuk perak, dan Rp15 juta untuk perunggu.
Peningkatan jumlah pendaftar menunjukkan semakin banyak murid yang mencoba masuk ke ruang penelitian. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman tersebut berlanjut melalui pendampingan, akses laboratorium, jejaring perguruan tinggi, dan kesempatan menguji hasil riset pada tingkat yang lebih tinggi.
Program pembinaan berkelanjutan itu melengkapi berbagai jalur pengembangan prestasi murid Indonesia. Sebelumnya, 63 siswa SD Indonesia juga mengikuti kompetisi matematika dan sains internasional IMSO 2026.




