Foto: Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Gogot Suharwoto melihat penerapan berpikir komputasional oleh murid SD/MI di Kudus. Djarum Foundation.
KORAN EDUKASI — Praktik pembelajaran berpikir komputasional yang dikembangkan di Kabupaten Kudus didorong untuk diperluas ke daerah lain. Pendekatan ini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan komputer, melainkan cara murid memecah masalah, mengenali pola, memilih informasi penting, dan menyusun langkah penyelesaian.
Program di Kudus telah diterapkan sejak jenjang PAUD dan dikembangkan melalui pelatihan guru, pendampingan pembelajaran, keterlibatan orang tua, serta Festival Berpikir Komputasional 2026.
Menjangkau puluhan sekolah dan ribuan murid
Pelatihan dilaporkan telah menjangkau 46 PAUD/RA dan 22 SD/MI. Sebanyak 1.111 guru serta 23.356 murid terlibat dalam praktik menggunakan kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, dan aktivitas gerak.
Ragam media tersebut menunjukkan bahwa berpikir komputasional dapat dilatih tanpa selalu bergantung pada perangkat digital. Guru dapat menyisipkannya ke dalam aktivitas sehari-hari selama tujuan, urutan langkah, dan proses refleksinya jelas.
Empat unsur yang dapat diterapkan guru
- Dekomposisi: memecah persoalan kompleks menjadi bagian yang lebih kecil.
- Pengenalan pola: menemukan kesamaan atau kecenderungan dari sejumlah contoh.
- Abstraksi: memilah informasi yang relevan dari informasi yang tidak diperlukan.
- Algoritma: menyusun urutan langkah untuk menyelesaikan persoalan.
Perkembangan kemampuan peserta diukur melalui tantangan BEBRAS yang menggunakan soal berpikir tingkat tinggi. Sumber melaporkan rata-rata skor murid meningkat dari 34,52 menjadi 88,34. Angka tersebut menunjukkan hubungan positif dalam konteks program, tetapi tidak serta-merta membuktikan hasil yang sama akan muncul di semua daerah tanpa evaluasi lanjutan.
Replikasi perlu menjaga mutu pendampingan
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menyatakan praktik pelatihan, pendampingan, dan festival di Kudus perlu dikembangkan serta ditingkatkan skalanya.
Ketika diperluas, daerah perlu menyesuaikan bahan dengan usia murid, kemampuan guru, dan sumber daya sekolah. Pengukuran awal serta akhir juga penting agar perubahan kemampuan tidak hanya dinilai dari kesan kegiatan.
Pembelajaran ini dapat melengkapi penguatan literasi dan numerasi. Simak pula pengalaman pelatihan literasi-numerasi bagi guru Muhammadiyah Kuantan Singingi.




