Foto: Destian/Kemendikdasmen
KORAN EDUKASI — Sebanyak 401 satuan pendidikan di Bali masuk program revitalisasi pada 2026. Jumlah itu meningkat dibandingkan 188 sekolah yang memperoleh program serupa pada 2025.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan perkembangan tersebut saat meninjau hasil dan pelaksanaan revitalisasi sekolah di Bali, Jumat, 2 Oktober 2026. Program ini diarahkan untuk memperbaiki ruang belajar dan fasilitas pendukung yang rusak atau tidak lagi layak digunakan.
Dua sekolah yang menjadi gambaran kondisi lapangan ialah SD Negeri 15 Dangin Puri di Kota Denpasar dan TK Indraprasta Kuta di Kabupaten Badung. Keduanya memiliki persoalan bangunan berbeda sebelum mendapat bantuan.
Ruang Kelas SDN 15 Dangin Puri Pernah Roboh
Guru SD Negeri 15 Dangin Puri, Ni Gusti Ayu Trisna Dewi, menjelaskan salah satu ruang kelas di lantai tiga pernah roboh setelah bangunan terdampak hujan dan angin. Sekolah tersebut kemudian menerima revitalisasi pada 2026.
Perbaikan membuat ruang kelas dan toilet menjadi lebih rapi serta bersih. Menurut keterangan sekolah, perubahan lingkungan belajar juga mendorong murid menghias kelas dengan hasil karya mereka sendiri.
Kondisi itu menunjukkan bahwa revitalisasi tidak hanya menyangkut tampilan gedung. Keamanan struktur, kebersihan, sanitasi, dan kelayakan ruang belajar menjadi bagian yang menentukan apakah kegiatan belajar dapat berlangsung tanpa risiko yang seharusnya bisa dicegah.
TK Indraprasta Kuta Kerap Terendam Banjir
Persoalan berbeda dihadapi TK Indraprasta Kuta. Sekolah yang berdiri sejak 1975 dan menempati lokasi sekarang sejak 1989 itu mengalami kerusakan atap, dinding, dan kusen. Banjir yang disebut terjadi dua kali setahun, dengan ketinggian mencapai pinggang orang dewasa, turut memperparah kerusakan bangunan.
Kepala TK Indraprasta Kuta Wayan Leniasih menyebut bantuan revitalisasi mencakup enam ruang kelas, satu ruang administrasi, satu toilet, serta penataan taman bermain yang rusak akibat banjir. Perbaikan fasilitas diikuti komitmen sekolah untuk merawat ruang dan perabotan yang diberikan.
Kemendikdasmen juga menyatakan pelaksanaan revitalisasi menyerap tenaga kerja di daerah. Namun, rilis kementerian belum merinci jumlah pekerja maupun nilai perputaran ekonomi yang dihasilkan di Bali.
Peningkatan jumlah sekolah penerima perlu diikuti pengawasan terhadap mutu konstruksi, ketepatan sasaran, dan penyelesaian pekerjaan. Sekolah juga membutuhkan rencana pemeliharaan agar bangunan yang telah diperbaiki tidak kembali mengalami kerusakan serupa.
Perbaikan sarana pendidikan menjadi penting terutama ketika bencana atau kerusakan mengganggu kegiatan belajar. Sebelumnya, pemulihan sekolah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur juga didorong untuk dipercepat.




