Selasa, 6 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu NewsModel Detektif Sains di Kutai Barat Ajak Siswa Aktif Memahami Fisika

Model Detektif Sains di Kutai Barat Ajak Siswa Aktif Memahami Fisika

spot_img

Foto: Istimewa

KORAN EDUKASI — Guru Fisika SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur, Desi Susanti mengembangkan model pembelajaran “Detektif Sains” untuk membantu siswa memahami fenomena di balik rumus fisika melalui kegiatan penyelidikan dan pemanfaatan teknologi.

Model tersebut mendorong peserta didik tidak berhenti pada hafalan teori. Mereka diajak mengamati persoalan, mencari petunjuk, menguji pemahaman, dan terlibat aktif dalam proses menemukan konsep.

Teknologi dipilih berdasarkan kebutuhan kelas

Desi Susanti menjelaskan bahwa pengembangan Detektif Sains dari versi 1.0 hingga 2.0 berangkat dari masalah dan kebutuhan nyata di kelas. Teknologi digunakan sebagai alat yang membantu siswa memahami konsep serta menjalankan proses penyelidikan, bukan sekadar pelengkap pembelajaran.

Penerapan model ini dilaporkan menghasilkan tingkat ketuntasan materi hingga 100 persen. Angka tersebut merupakan hasil yang disampaikan dalam laporan praktik pembelajaran dan belum dapat diperlakukan sebagai gambaran umum seluruh sekolah tanpa evaluasi lebih luas.

Praktik tersebut juga dikembangkan menjadi dua publikasi ilmiah pada jurnal terakreditasi Science and Technology Index (SINTA) 3 dan SINTA 4. Pengalaman pembelajaran dibagikan melalui kanal YouTube, pelatihan, dan komunitas guru, serta disebut telah direplikasi oleh ratusan pendidik di berbagai daerah.

Masuk daftar penerima penghargaan pendidik

Desi Susanti terpilih sebagai penerima Mentari Educreator Awards dalam Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026. Program itu memilih 20 pendidik dari 770 pendaftar yang berasal dari 228 kabupaten dan kota serta 679 sekolah.

Para penerima terdiri atas 10 penerima Mentari Changemaker Awards, lima Mentari Leadership Awards, dan lima Mentari Educreator Awards. Seleksi tersebut menempatkan inovasi pembelajaran dan kepemimpinan sekolah sebagai bagian dari penilaian.

Model ini memperkaya praktik pembelajaran berbasis penalaran seperti penguatan berpikir komputasional bagi murid di Kudus. Keduanya menempatkan siswa sebagai pelaku aktif dalam proses memahami masalah, bukan penerima informasi semata.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img