Foto: ANTARA/HO-Kemdiktisaintek
KORAN EDUKASI — Penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan perlu diarahkan untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikan kerja kognitif peserta didik. Guru tetap memegang peran utama dalam merancang tugas yang membuat siswa membaca, menulis, menghitung, membandingkan, dan mengambil keputusan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan perhatian tersebut dalam keterangan di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026. Ia memaparkan data Consumer Insights 2026 yang menyebut 61 persen responden di Indonesia menggunakan AI dalam pendidikan.
Risiko penyerahan proses berpikir
Stella Christie menjelaskan konsep cognitive offloading, yakni keadaan ketika manusia menyerahkan sebagian proses berpikir kepada alat atau teknologi. Kemudahan menyelesaikan tugas, menurut penjelasannya, tidak otomatis menunjukkan bahwa kemampuan yang hendak dilatih melalui tugas tersebut ikut berkembang.
Ia merujuk sebuah studi yang menunjukkan penggunaan AI sebagai tutor meningkatkan hasil selama latihan sebesar 127 persen. Namun, ketika peserta diuji kembali tanpa bantuan AI, kelompok pengguna tutor AI tidak menunjukkan perbedaan dibanding kelompok yang tidak menggunakannya.
Contoh lain yang dipaparkan berkaitan dengan kemampuan diagnosis dokter. Dalam penelitian yang disebutkan Stella Christie, tingkat kemampuan diagnosis turun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen setelah tiga bulan menggunakan AI secara rutin. Angka tersebut disampaikan sebagai peringatan mengenai kemungkinan berkurangnya latihan berpikir ketika teknologi mengambil alih terlalu banyak tahapan kerja.
Guru perlu merancang penggunaan AI
Pemerintah tidak mendorong pelarangan AI dari ruang belajar. Teknologi dapat digunakan untuk membuat gambar, mencari alternatif, atau membantu eksplorasi. Peserta didik tetap perlu membandingkan hasil, menjelaskan alasan pemilihan, menilai ketepatan informasi, dan menyusun perintah atau prompt secara sadar.
Pandangan tersebut memperluas pembahasan sebelumnya mengenai kebutuhan kampus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengendalikan AI. Tantangannya kini terletak pada desain pembelajaran: AI harus menjadi alat bantu, sementara proses memahami dan memecahkan masalah tetap dilakukan peserta didik.




