Foto: RRI/DN
KORAN EDUKASI — SMAN 2 Sabang untuk pertama kalinya menggunakan sistem digital dalam pemilihan ketua dan wakil Organisasi Siswa Intra Sekolah. Pemungutan suara melibatkan 590 warga sekolah pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Jumlah pemilih terdiri atas 540 siswa kelas X hingga XII serta 50 guru dan tenaga kependidikan. Sistem digital digunakan untuk mempercepat pemungutan dan penghitungan suara dalam agenda tahunan sekolah tersebut.
Kepala SMAN 2 Sabang Nasrizal menjelaskan dua pasangan calon telah mengikuti tahapan penyampaian gagasan dan debat sebelum pemungutan suara. Dengan demikian, penggunaan teknologi ditempatkan setelah proses pengenalan kandidat dan program.
Teknologi Mendukung Proses, Bukan Menggantikan Demokrasi
Pemilihan digital dapat mengurangi pekerjaan penghitungan manual dan mempercepat penyampaian hasil. Namun, kualitas pendidikan demokrasi tetap ditentukan oleh keterbukaan aturan, kerahasiaan pilihan, kesempatan kandidat menyampaikan program, dan penerimaan terhadap hasil.
Bagi siswa, proses tersebut menjadi pengalaman mengenal tahapan pemilihan sebelum memasuki usia sebagai pemilih dalam pemilu. Mereka belajar bahwa memilih tidak hanya berarti menekan pilihan pada layar, tetapi juga membandingkan gagasan serta mempertimbangkan kepemimpinan organisasi.
Sekolah juga perlu memastikan semua pemilih memahami cara menggunakan sistem. Perangkat, jaringan, akses akun, dan bantuan teknis harus disiapkan agar kendala teknologi tidak menghilangkan hak suara warga sekolah.
Keamanan dan Audit Tetap Dibutuhkan
Penerapan sistem digital menambah kebutuhan pengamanan data. Sekolah perlu mencegah pemilih memberikan suara lebih dari sekali, menjaga kerahasiaan pilihan, membatasi akses pengelola, dan menyediakan catatan hasil yang dapat diperiksa.
Jika terjadi gangguan jaringan atau perangkat, prosedur cadangan perlu disiapkan sebelum pemungutan dimulai. Transparansi tentang cara sistem menghitung suara juga membantu mencegah keraguan setelah hasil diumumkan.
Nasrizal berharap pengurus terpilih dapat mengajak siswa memajukan sekolah, membangun kepribadian, dan meningkatkan motivasi belajar. Ia juga mengingatkan siswa menggunakan hak pilih dan menerima hasil sebagai bagian dari proses demokrasi.
Penggunaan teknologi pada kegiatan kesiswaan dapat menjadi sarana pembelajaran apabila disertai refleksi setelah pemilihan. Sekolah dapat mengevaluasi partisipasi, kendala teknis, serta pemahaman siswa tentang program kandidat.
Pengalaman ini melengkapi berbagai upaya sekolah memperkenalkan keterampilan digital dan penalaran. Di daerah lain, pembelajaran berpikir komputasional di Kudus didorong untuk diperluas.




