Foto: ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban
KORAN EDUKASI — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa guru memiliki posisi penting dalam mencegah kekerasan dan membangun budaya sekolah yang aman melalui keteladanan, toleransi, dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Pesan tersebut disampaikan dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang berlangsung secara daring, Jumat malam, 2 Oktober 2026.
Abdul Mu’ti menjelaskan peran guru tidak terbatas pada penyampaian pengetahuan, nilai, dan keterampilan. Guru juga menjadi figur yang diamati murid dalam membangun hubungan sosial sehari-hari.
Sekolah Aman Tidak Hanya Ditentukan Bangunan
Keamanan sekolah mencakup kondisi fisik sekaligus budaya interaksi seluruh warga sekolah. Sikap menghormati perbedaan, menerima orang lain, dan bekerja sama perlu hadir dalam praktik, bukan hanya tertulis sebagai aturan atau disampaikan dalam pelajaran.
Abdul Mu’ti menggunakan konsep toleransi otentik untuk menggambarkan kemampuan seseorang tetap meyakini ajaran agamanya sambil memahami, menerima, dan menghormati pihak yang berbeda. Kemampuan tersebut dipandang relevan karena murid hidup dalam masyarakat yang beragam.
Guru juga berperan membangun keterampilan sosial agar murid mampu berinteraksi secara sehat. Proses belajar untuk hidup bersama dapat dilatih melalui kerja kelompok, dialog, penyelesaian konflik, dan kebiasaan memberi ruang kepada orang lain.
Keluarga dan Lingkungan Digital Turut Berpengaruh
Pencegahan kekerasan tidak dapat dibebankan kepada sekolah saja. Perilaku anak juga dipengaruhi keluarga, masyarakat, teman sebaya, media massa, dan konten digital yang mereka konsumsi.
Karena itu, sekolah membutuhkan komunikasi dengan orang tua serta mekanisme yang membuat murid aman melaporkan masalah. Guru dan tenaga kependidikan perlu mengetahui jalur penanganan, sementara laporan harus ditindaklanjuti tanpa memperburuk posisi korban.
Keteladanan guru membentuk apa yang sering disebut kurikulum tersembunyi. Cara guru menanggapi perbedaan pendapat, memberi sanksi, mendengar murid, dan menangani konflik menjadi pengalaman pendidikan yang dapat lebih membekas daripada penjelasan teori.
Abdul Mu’ti mengaitkan pengalaman tersebut dengan pembelajaran mendalam yang menempatkan praktik dan pembentukan karakter sebagai bagian dari pendidikan. Sekolah diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan murid dari latar berbeda belajar bekerja sama.
Perlindungan murid juga berkaitan dengan kesehatan psikologis dan budaya saling peduli. Sebelumnya, komunitas sekolah didorong memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental siswa.




