Minggu, 11 Oktober 2026
spot_img
BerandaEdu MasyarakatLiterasi Pascabencana Aceh Siapkan 75 Guru dan Penggiat TBM di Lima Titik

Literasi Pascabencana Aceh Siapkan 75 Guru dan Penggiat TBM di Lima Titik

spot_img

Foto: LSI/RRI

KORAN EDUKASI — Sebanyak 75 guru sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, dan penggiat Taman Bacaan Masyarakat dipersiapkan untuk mendampingi pembelajaran pascabencana di Aceh. Pendampingan akan dilakukan di empat titik Kabupaten Pidie Jaya dan satu titik Kabupaten Aceh Utara.

Pembekalan fasilitator diselenggarakan di Banda Aceh pada 4 Oktober 2026 oleh Sekolah Literasi Indonesia bersama Respon Darurat Pendidikan Dompet Dhuafa dan Forum Taman Bacaan Masyarakat Provinsi Aceh. Kegiatan menjadi tahap persiapan sebelum tim diterjunkan ke sekolah dan komunitas sasaran.

Pembelajaran diarahkan memulihkan rasa nyaman

Koordinator fasilitator wilayah Aceh Siti Nurhidayah menjelaskan bahwa kondisi pascabencana memerlukan pendekatan belajar yang tidak berhenti pada target akademik. Anak juga membutuhkan ruang untuk kembali merasa aman, berekspresi, dan membangun semangat belajar.

“Karena itu, pembelajaran perlu dikemas secara kreatif, menyenangkan, serta dekat dengan kebutuhan anak,” ujar Siti Nurhidayah.

Peserta memperoleh materi tentang aktivitas literasi kreatif untuk menguatkan kompetensi esensial anak jenjang SD. Mereka juga dibekali keterampilan melatih guru di wilayah sasaran melalui diskusi, kerja kelompok, dan simulasi yang dikaitkan dengan situasi lapangan.

Ketua Sekolah Literasi Indonesia Andi Ahmadi dan Koordinator Program Sekolah Literasi Indonesia Maya Safitri turut memberikan pembekalan. Setelah sesi materi, fasilitator dibagi berdasarkan titik pendampingan di Pidie Jaya dan Aceh Utara.

Kolaborasi sekolah dan komunitas

Program ini menempatkan sekolah, taman bacaan, fasilitator, dan masyarakat dalam satu jejaring pendampingan. Kerja bersama diperlukan karena pemulihan ruang belajar setelah bencana tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan bacaan, tetapi juga interaksi dan kepercayaan diri anak.

Fasilitator diminta memahami kondisi guru serta kebutuhan setiap lokasi sebelum memilih metode. Sumber berita belum merinci durasi pendampingan dan indikator capaian program, sehingga hasilnya baru dapat dinilai setelah kegiatan berjalan di lima titik sasaran.

Pendampingan tersebut melengkapi upaya memulihkan layanan belajar setelah bencana. Sebelumnya, ribuan sekolah terdampak bencana di Sumatera dilaporkan kembali menjalankan pembelajaran, meski sebagian masih memakai ruang darurat. Pengalaman setiap lokasi tetap perlu dicatat agar metode pendampingan berikutnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dan guru.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Koran Edukasi

spot_img