Tahun 2025 ditandai dengan pergeseran fokus pendidikan Indonesia dari sekedar penguasaan pengetahuan menuju pembelajaran berbasis keterampilan. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap kebutuhan keterampilan abad ke-21, yang meliputi kemampuan berpikir kritis, problem-solving, komunikasi efektif, kolaborasi, serta literasi digital.
Sejak beberapa tahun terakhir, kurikulum sekolah telah mengalami penyesuaian agar siswa tidak hanya menguasai teori tetapi juga dapat menerapkan pengetahuan secara praktis.
Program seperti “Merdeka Belajar” yang dicanangkan pemerintah terus diperkuat, mendorong sekolah-sekolah untuk memberikan ruang kepada siswa dalam eksplorasi diri dan pengembangan kreativitas melalui pembelajaran proyek (project-besed learning).
Peran Guru Berubah Dari Pengajar Menjadi Fasilitator
Peran guru kini mengalami perubahan signifikan. Dari sekedar sebagai pengajar atau memberi materi, guru kini menjadi fasilitator yang membimbing siswa dalam proses belajar.
Dikelas, guru diharapkan mampu membangun suasana belajar yang kolaboratif, di mana siswa diajak untuk berpartisipasi aktif, berpikir kritis, dan bekerja sama dalam memecahkan masalah.
Pemerintah telah menyediakan program pelatihan berkelanjutan bagi guru, yang tidak hanya berfokus pada metode pengajaran tradisional, tetapi juga pada penguasaan teknologi serta strategi pembelajaran berbasis proyek.
Dengan demikian, guru dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan pendidikan yang semakin digital dan tetap relavan dalam mempersiapkan siswa menghadapi tantangan dunia modern.
Di tahun 2025, literasi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum sekolah di Indonesia. siswa dilatih tidak hanya dalam hal keterampilan teknis, tetapi juga mengenai penggunaan internet yang aman dan etis. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemampuan literasi digital menjadi penting agar siswa dapat menghindari risiko-risiko seperti penipuan daring, perundungan siber, dan penyebaran informasi palsu.






