Rumah Batik TBIG telah meluluskan ratusan siswa dan sukses membuka usaha batik secara mandiri. Pada tahun ini, Rumah Batik TBIG kembali menggelar wisuda batch ke-5 yang meluluskan 32 siswa terdiri dari 20 siswa Regular A dan 12 siswa Regular B (disabilitas).
Head of CSR Department TBIG, Fahmi Sultan Alatas menyampaikan dengan menghadirkan kemandirian ekonomi tersebut maka produk batik akan bermanfaat bagi pelaku batik itu sendiri.
Hal ini sebagai upaya untuk menjaga kelestarian budaya batik sekaligus relevan dalam menciptakan wirausaha muda di bidang batik.
Budaya Nusantara Yang Mendunia
Kalo kita melestarikan batik hanya dengan seremonial dan event pameran itu membuat upaya pelestarian tidak terukur. Dan itu akan terjebak pada romantisme sejarah,” jelasnya Fahmi.
Dia menyampaikan, Rumah Batik TBIG hadirkan solusi kemandirian ekonomi generasi muda Pekalongan dengan pelatihan keterampilan membatik, kewirausahaan dan pendampingan oleh koperasi binaan.
Fahmi juga menyampaikan pihaknya juga memfasilitasi dalam memberikan akses permodalan dan pendistribusian barang yang dihasilkan oleh alumni dan pelaku usaha mikro batik di Pekalongan.
“Dengan hal ini, kami tidak ingin menciptakan ketergantungan baru, kami tidak ingin menciptakan masalah. Kita hadir melalui rumah batik ini untuk menciptakan solusi tersebut,” katanya.
Fahmi mengatakan pada program Rumah. Batik juga memasukkan aspek lingkungan dalam kurikulumnya. Siswa rumah batik diberikan pembelajaran mengenai proses produksi ramah lingkungan, dengan memasukkan kurikulum pewarna alam dan pengelolaan limbah pewarna.






